Mitos Penari Jawa, Benarkah Ada Ritual Khusus?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 02 Februari 2020 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 31 612 2161420 mitos-penari-jawa-benarkah-ada-ritual-khusus-i0SmUy9mmC.jpg Ilustrasi. (Foto: Baim/Okezone)

SETIAP penari Jawa diyakini bakal melakukan ritual khusus sebelum tampil. Pandangan ini muncul karena ajaran leluhur yang masih kental di tanah Jawa.

Kesakralan saat menari sesuai tradisi Jawa amat terasa dalam setiap unsurnya. Musik gamelan yang menggaung tenang dan pakaian penari yang terlihat kuno, membuat suasana menjadi berbeda. Hal itu memberi kesan magis bagi setiap pasang mata yang melihat.

Penari Jawa Klasik Martini menegaskan, meski kerap dinilai punya nilai magis yang tinggi, tak ada hal mistis yang melekat di dalam diri penari Jawa. Namun sebelum pentas, para penari Jawa biasanya berpuasa.

"Dengan berpuasa, penari mampu menahan ego dan emosi dan ini baik untuknya di atas panggung," terangnya pada Okezone saat ditemui di sela-sela latihan di kawasan Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dengan menjaga emosi dan ego, penari akan terlihat ayu dan dia akan memesona penonton yang melihatnya. Selain itu, dengan berpuasa juga si penari akan menyerahkan seutuhnya diri mereka pada Tuhan. Sebab, Tuhan juga lah yang akan menentukan kelancaran pertunjukan.

penari jawa

Selain itu, menurut Martini, puasa dapat menjadi salah satu kunci kesuksesan seorang penari. Ajaran ini rupanya ia sebarkan juga kepada anak muridnya, salah satunya Komunitas Arkamaya Sukma.

Ia menjelaskan, ada persiapan penting lainnya yang dilakukan oleh penari Jawa sebelum pentas. Hal ini penting agar para penari tidak merasa dirinya paling benar, juga paling ingin diperhatikan. Sikap tersebut seharusnya tidak ditunjukan sang penari Jawa.

"Saat menari, akan ada momen kita melihat teman salah. Melihat itu kita sebagai penari jangan, kemudian merasa hebat dan merendahkan teman sendiri. Kita malah harus merangkulnya dan kembali menyatu dalam kesatuan," paparnya.

Maksudnya adalah sebagai satu kesatuan, setiap penari di atas panggung itu menjadi bagian yang sama. Makanya, ketika ada yang keliru, jangan pernah direndahkan atau merasa paling hebat.

Namun Martini percaya bahwa saat di atas panggung, tidak ada yang namanya benar dan salah. "Yang ada itu momong atau tidak momong," sambungnya.

Perempuan yang menjadi pengajar tarian Jawa selama 25 tahun itu, meluruskan persepsi seputar penari Jawa yang keliru.

"Tidak ada itu yang namanya ritual-ritual sebelum kita tampil," sambungnya.

(dwk)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini