Kisah Hidup Guru Tari Jawa Martini Pernah Dibayar Rp50

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 03 Februari 2020 18:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 03 612 2162722 kisah-hidup-guru-tari-jawa-martini-pernah-dibayar-rp50-TskE4Prrqn.jpg Penari Jawa Martini. (Foto: Baim/Okezone)

MENEMUI seseorang yang melestarikan kesenian tradisional tari rasanya gampang-gampang susah. Tak ada salahnya Anda berkenalan dengan Martini, perempuan Jawa yang sudah puluhan tahun menekuni dunia tari.

Mengintip sesi latihan Komunitas Tari Jawa Klasik, senyum manis khas perempuan Jawa menyambut kehadiran Okezone. Salam hangat dengan suara khas Jawa Tengah yang lembut, menjadi pembuka percakapan dengan sang guru tari Jawa klasik, Martini.

Sosok perempuan berusia 50 tahun bertubuh bugar dengan tata krama yang elok itu, menceritakan suka duka menjadi penari Jawa. Dengan sepenggal kalimat, "Mau tanya apa, nduk?". Kalimat itu diucapkan begitu tenang selagi merapikan selendang di pinggangnya.

Percakapan dimulai dari kisah masa kecil, ya, seperti pertanyaan kebanyakan pewarta. Martini pun menyambut baik pertanyaan tersebut dan mulai menceritakan kisah hidupnya 42 tahun silam.

"Saya mulai menari sejak kecil, dari kelas 2 SD," ucapnya lembut.

Anak dari keluarga berdarah seni itu pun menyadari, dirinya harus mewarisi salah satu bakat seni orangtuanya. Martini memilih seni tari untuk dapat dikuasai, setelah kakaknya memilih jalan sebagai sinden.

penari jawa

Di usia 8 tahun, Martini sudah ditempa dengan serius dalam hal menari. Berdasar budaya leluhur kala itu, seorang anak yang ingin belajar nari harus nyantrik di kediaman sang guru tari. Alhasil, Martini harus melakukan hal tersebut.

Anak dari kerabat sang ayah dijadikan guru tari Martini pertama kali, namanya Sunarto. Di rumahnya, Martini akhirnya mengabdi.

"Kurang lebih 2 mingguan saya tinggi di sana," terangnya.

Sunarto dalam dua minggu mengajarkan dua tarian dasar untuk Martini, yakni Tari Bondan dan Tari Merak. Martini tak menyangkal, setelah sesi nyantri berakhir, ia sudah mahir menarikan dua tarian tersebut secara utuh. Dari sanalah petualangannya dimulai.

Namun, nyantrik bukan hal yang mudah diselesaikan begitu saja. Banyak cerita menarik yang ia dapati selama "numpang" hidup di rumah Sunarto. Salah satunya momen saat dirinya ingin pulang dan menangisi hidup.

"Betul, saya tuh sempat nangis siang-siang, ngerasa bingung kenapa saya harus melakukan hal ini (nyantrik-Red). Aku yo nyuci piring, nyapu, masak, ya, pokoknya bantu-bantu di rumah pak guru. Mau balik ke rumah tapi enggak mungkin karena harus bisa menari baru bisa pulang dan jarak rumah jauh," ceritanya.

Meski sempat dilanda galau dan homesick, Martini mampu melewati momen nyantri tersebut. Sampai akhirnya, Sunarto juga yang membuka jalan kesuksesan Martini di usianya yang masih kecil.

Ia diajak keliling kampung untuk tampil di acara 17-an di tahun 1978 tanpa dibayar. Sampai akhirnya saat SMP, Martini mengaku sudah bisa berpenghasilan sendiri.

"Aku ingat betul gajiku di SMP itu Rp50 atau Rp75, nggak sampai Rp100 tapi aku senang," curhatnya.

Gaji itu didapatinya dari hasil menghibur di acara pernikahan orang di kampung. Karier Martini terus berjalan, walau masih di sekitaran kampung.

Sampai akhirnya momen untuk melanjutkan pendidikan datang. Ia ditawari Sunarto untuk sekolah di SMKI N Surakarta, Jawa Tengah atau yang dulu disebutkan Sekolah Konservatori. Di sana ia mengambil jurusan tari.

"Saya dicemplungin ke situ, sekolahnya empat tahun," ungkapnya.

Setelah lulus SMK, ia pun memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Kembali, ia mengambil jurusan tari.

Setelah lulus, Martini memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ia mengambil Akta 4 di Universitas Negeri Jakarta. Dengan tujuan agar bisa menjadi guru tari di sekolah dan berharap bisa jadi pegawai negeri.

"Tapi, ternyata jalanku nggak ke sana. Aku dikasih jalannya buat ngajar di sanggar-sanggar," ucapnya lantas tersenyum.

Kehidupan Martini di Jakarta seperti kebanyakan cerita perantau tak memiliki siapa-siapa. Tapi, dengan sedikit perbedaan, Martini di Jakarta bersama suaminya yang kala itu bekerja di suatu pabrik.

Hidup harus terus berjalan. Martini ingin memiliki karier di Jakarta, alhasil ia mulai berpetualang kembali. Ia datangi satu satu gelanggang yang ada di Jakarta. Hampir semuanya ia datangi untuk mencari teman.

Sampai akhirnya, perempuan berambut keriting ini berlabuh di salah satu sanggar di Bekasi Timur, Sanggar Tari Sunda dan Betawi Hasta Guriang namanya. Pemiliknya yang bernama Titin, perempuan Sunda, adalah teman pertama Martini di Jakarta.

Kemudian, sejalannya waktu ia mulai bertemu dengan guru tari lainnya dan orang kedua yang ia temui adalah Surya, yang juga orang Sunda.

"A'a Surya ini yang kemudian mengajarkan saya untuk bersikap disiplin gerakan. Jika nari itu harus membuat saya muntah-muntah demi kesempurnaan, ya, saya harus lakukan," ungkapnya.

Bicara mengenai murid pertama kali, Martini menyatakan kalau anaknya, Titin, yang menjadi murid pertamanya. Ia bahkan dipersilahkan untuk hidup di sanggar yang dikelola Titin.

Martini akan makan dan bantu-bantu di sanggar tersebut sebagai bentuk terima kasih. Ia juga mengajarkan Putri, nama anak Titin, tarian Jawa yang akhirnya teman-teman Putri bertambah. Itu berarti muridnya semakin banyak. Mulai dari sesuatu yang kecil, tapi berakhir manis.

"Saya saat itu bukan mau cari uang, tapi mau cari saudara, cari teman dan Alhamdulillah saya bertemu dengan Teh Titin dan A'a Surya. Mereka sosok luar biasa di hidup saya," kata Martini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini