Suka Duka Martini 27 Tahun Geluti Profesi Guru Tari Jawa

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 03 Februari 2020 19:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 03 612 2162728 suka-duka-martini-42-tahun-geluti-profesi-guru-tari-jawa-OnnTPipOQr.jpg Martini, penari Jawa asal Solo. (Foto: Baim/Okezone)

MENJADI penari Jawa, Martini (50) punya banyak pengalaman berharga. Sampai akhirnya ia memutuskan menjadi guru tari demi melestarikan salah satu kesenian tradisional Tanah Air.

Martini sadar betul, musik dalam tarian Jawa begitu berarti untuk hidupnya. Dentuman gamelan menjadi nada dalam kehidupan yang membuat dirinya jauh lebih menghargai ketenangan dan kelembutan.

Sudah sejak kecil mendengar musik Jawa dan belajar tari Jawa klasik, membuat pribadi Martini sangat ayu. Meski begitu, ia mengaku sampai sekarang masih belajar untuk terus merendahkan hati di hadapan orang lain.

martini

"Dari tarian Jawa, saya belajar banyak filosofi kehidupan dan itu yang coba saya bagian kepada murid-murid saya," ungkapnya, kepada Okezone, belum lama ini.

Martini begitu totalitas dalam mengajar. Ini berarti dirinya bukan hanya mengajarkan gerakan, tapi makna di balik itu semua. Banyak hal yang kemudian menjadi ilmu kehidupan baginya.

Sebut saja keikhlasan, kesabaran, rendah hati, perempuan yang mampu mengendalikan emosi negatif, selalu berpikir positif, dan tidak pernah merasa jadi yang paling hebat. Nilai kehidupan ini yang dirasakan Martini ia dapatkan dari menari Jawa klasik.

"Saya mengajarkan tari memang, tapi saya ingin nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya, diterapkan anak murid saya di kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

Selain bangga karena telah mengubah psikologis seseorang, Martini pun merasa bangga dengan dirinya sendiri. Ketika tahu bahwa muridnya yang tidak pernah menari sebelumnya, akhirnya dapat menari dan kehidupannya pun ikut berubah.

Ilmu ini ternyata ia dapati dari guru-gurunya. Masih menempel di ingatan Martini bahwa gurunya pernah berpesan supaya bisa menjadi guru yang 'ngemong' atau merangkul murid. Selain itu, guru yang baik adalah yang mampu mengubah muridnya untuk tidak merasa dirinya paling hebat atau sombong.

"Bisa mengajarkan seseorang dari nol sampai bisa mengubah seseorang menjadi yang lebih baik karena memahami dengan betul makna kehidupan yang terkandung dari tari Jawa adalah hal yang membuat saya bangga dan ini jauh lebih berarti dari apapun," terangnya dengan nada sedikit bergetar.

Karena itu semua, Martini mengaku bahwa dirinya pernah didatangi salah seorang murid dan ia sampai bersujud mengucap terima kasih. Ini terjadi karena dirinya dianggap bukan sekadar guru tari, tapi guru kehidupan.

Meski begitu, ada saja beberapa muridnya yang tak tahu berterima kasih. Jadi, setelah si murid sudah mahir menari dan tampil di suatu acara, Martini dilupakan begitu saja. Hanya 2M yang ia dapati; "Makasih Mbak". 

Namun, hal itu tak pernah menjadi halangan baginya. Sebab, ia percaya bahwa Tuhan sudah menempatkan rezeki di tempat lain. Lebih dari itu, Tuhan sudah memberikan nikmat yang jauh lebih besar dari sekadar materi.

"Saya sadar sekali bahwa nikmat sehat dan ilmu yang Tuhan beri ke saya adalah rezeki yang tak pernah dapat saya dustakan. Saya lebih bersyukur dengan nikmat ini," ucap Martini dengan mata berkaca-kaca.

Musik Jawa terus melantun sampai obrolan ini mesti berhenti karena Martini harus kembali mengajar. Ia menyudahi sesi curhat dengan melempar senyum lebar dan pancaran mata yang begitu tulus ia berikan sembari membenarkan gerakan tangan muridnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini