nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melestarikan Tari Daerah Bersama Arkamaya Sukma, Ketika Budaya Indonesia Terkikis Teknologi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 04 Februari 2020 22:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 04 612 2163401 melestarikan-tari-daerah-bersama-arkamaya-sukma-ketika-budaya-indonesia-terkikis-teknologi-y1dPyiOVDa.jpg Arkamaya Sukma. (Foto: Okezone)

SADAR atau tidak, kesenian dan budaya tradisional Indonesia mulai tergerus oleh arus globalisasi yang kian tak terbendungkan. Masuknya kebudayaan asing di Tanah Air seolah menjadi hiburan baru bagi masyarakat, namun di sisi lain justru mengesampingkan keberagaman budaya yang kita miliki.

Hal inilah yang melatarbelakangi Anna Kunti Pratiwi dan teman-temannya mendirikan komunitas perempuan bertajuk Arkamaya Sukma. Visi dan misi mereka sebetulnya tidak muluk-muluk. Mereka ingin melestarikan kesenian budaya tradisional Indonesia kepada orang-orang di sekitarnya.

Ya, sebagai perempuan dan juga ibu dari generasi muda penerus bangsa, Kunti dan teman-tamannya merasa prihatin bahwa generasi muda saat ini lebih mengenal dan mencintai budaya asing. Ironi memang, perkembangan tekonogi seperti televisi media maupun online telah mengikikis kebudyaan Indonesia perlahan.

"Kami ingin meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia dan dunia terhadap karya budaya bangsa Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh dulu, paling tidak bisa menarik perhatian anak-anak kami," terang Kunti saat ditemui Okezone di bilangan Jakarta Selatan, belum lama ini.

perkembangan tekonogi seperti televisi media maupun online telah mengikikis kebudyaan Indonesia perlahan.

Sejarah Arkamaya Sukma Berawal dari Tantangan Pastur

Dibentuk setelah acara reunian kampus pada 2016 silam, Kunti mendapat tantangan menarik dari seorang pastur yang sempat membimbing mereka saat masih tergabung dalam UKM Mahasiswa/i Katolik Universitas Indonesia.

"Jadi waktu itu ada peringatan Imamat yang ke-50, terus beliau menantang kami, 'coba donk kalian menari pada saat acara'," ungkap Kunti.

"Tantangan tersebut kami terima karena momentumnya juga sangat tepat. Setelah reuni, kami memang selalu cari cara supaya momen kumpul-kumpulnya tidak hilang, jadi akhirnya kami putuskan untuk menerima tantangan tersebut," timpalnya.

Persiapannya sendiri, kata Kunti, memakan waktu kurang lebih tiga bulan. Untungnya, sebagian besar anggota komunitas ini merupakan ibu-ibu dengan rentang usia antara 40-60 tahun, namun terbilang militan dan memiliki komitmen yang kuat.

Hal tersebut terbukti dari jadwal latihan mereka yang sangat padat. Seminggu bisa sampai 3-4 kali dengan durasi 2-3 jam per malam. Bahkan menjelang pentas, intensitas latihan akan semakin tinggi.

Berkat determinasi dan komitmen yang kuat itulah, penampilan mereka di peringatan Imamat ke-50 itu menuai banyak pujian dan respons positif. Padahal, sejak awal berkecimpung di komunitas ini, Kunti dan teman-temannya tidak memiliki kemampuan dasar menari apalagi menampilkan pertunjukkan tari tradisional Jawa yang terbilang rumit dan susah.

dasar menari apalagi menampilkan pertunjukkan tari tradisional Jawa yang terbilang rumit dan susah.

"Sebagian dari kami itu belum pernah belajar menari, paling banter ya waktu masih kecil. Tapi setelah mendapat banyak respons positif, kami sepakat untuk menyeriusi kegiatan ini dan mendirikan komunitas Arkamaya Sukma. Jenis tarian yang kami pilih adalah tari tradisional Jawa dengan pakem-pakem Surakarta," jelas Kunti.

Kunti menjelaskan, keputusan memilih tari sebagai kegiatan utama komunitas tidak terlepas dari alasan kesehatan, selain untuk mencari kegiatan positif di luar aktivitas sehari-hari.

"Buat ibu-ibu bagusnya menari, kalau olahraga lain sudah terlalu mainstream dan membutuhkan kondisi fisik yang kuat. Kenapa dipilih tari Jawa klasik/Surakarta? Karena sebagian dari kami ada yang berasal dari Solo. Selain itu, tadinya kami bergabung di satu sanggar, dan dari awal diajarkan gaya klasik Surakarta," papar Kunti.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 21 April 2018, komunitas Artamaya Sukma resmi berbadan hukum. Kunti pun terpilih menjadi ketuanya. Keputusan ini diambil mengingat tawaran menari mulai berdatangan dari dalam maupun luar negeri.

Menurut penjelasan Kunti, komunitas yang memiliki badan hukum sehingga lebih berkomitmen dan bisa lebih banyak berpartisipasi dalam event-event yang berskala nasional maupun internasional.

"Kadang-kadang kalau mau tampil di event-event internasional itu memang sebaiknya grup tari yang tidak hanya komunitas, meski pun tidak profesional tapi harus komunitas yang serius mendalami. Untuk sponsorhip seperti CSR dan segala macamnya juga mewajibkan komunitas yang berbadan hukum," tegasnya.

macamnya juga mewajibkan komunitas yang berbadan hukum,

Tak hanya itu, sepanjang tahun 2017, ternyata antusias dan komitmen para anggota Arkamaya Sukma juga masih sangat tinggi. Mereka tetap bertahan melaksanakan latihan rutin setiap minggu, terlepas ada atau tidaknya jadwal pentas.

Hingga saat ini, Arkamaya Sukma telah menaklukan 11 panggung bergengsi. Dua di antaranya berlangsung di Brisbane, Australia, dan Auckland, New Zealand.

"Ini sesuatu yang luar biasa buat kami ibu-ibu yang sudah sibuk, tapi masih mau meluangkan waktu untuk budaya Indonesia. Tujuannya ya tidak muluk-muluk ingin memberikan contoh untuk anak-anak kami," tutup wanita yang bekerja di salah satu BUMN ini.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini