nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ternyata Pria Lebih Mudah Tertular Virus Korona Loh!

Rabu 05 Februari 2020 13:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 05 481 2163661 ternyata-pria-lebih-mudah-tertular-virus-korona-loh-1o2wcLdaOT.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

VIRUS Korona Wuhan (Corona virus/2019-nCov) memang tengah merebak dan membuat kepanikan di seluruh dunia. Penyebaran virus yang tergolong cepat membuat banyak orang mengambil tindakan preventif.

Tapi, ternyata ada beberapa orang yang lebih mudah tertular virus Korona, seperti anak-anak dan lansia. Pakar kesehatan di Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI) memaparkan risiko laki-laki terinfeksi virus Korona jauh lebih besar daripada wanita.

Spesialis Mikrobiologi RSUI Fera Ibrahim mengatakan, berkaca pada kasus SARS yang disebabkan virus Korona jenis lain, reseptor atau penerimaan terhadap enzim pengubah angiotensin atau angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) pada laki-laki lebih banyak daripada wanita.

Saat virus SARS muncul, ternyata reseptor ACE2 lebih banyak ada di laki-laki daripada perempuan. Selain itu reseptor ini juga lebih banyak ditemukan pada ras Asia dibandingkan kulit putih dan hitam. Sifat virus secara umum akan menginfeksi sel-sel di dalam tubuh kemudian mereplikasi atau menggandakan dirinya.

 sel-sel di dalam tubuh kemudian mereplikasi atau menggandakan dirinya.

"Untuk masuk ke sel ada reseptor. Virus Korona mirip SARS, ada reseptor yang namanya ACE2. Reseptor ini ada di nasofaring hingga otak. Tetapi yang paling banyak di sel epitel paru sehingga tampak seperti infeksi saluran napas dan diare," jelasnya seperti dilansir dari solopos.com.

Fera menambahkan, perubahan iklim bisa saja menjadi salah satu penyebab munculnya virus Korona. Namun dia menduga kemungkinan munculnya virus Korona novel di Wuhan, China, terjadi karena perubahan di ekosistem mereka sendiri.

Di sisi lain, Dokter Spesialis Paru RSUI, Raden Rara Diah Handayani mengatakan angka kematian dari orang yang terjangkit virus Korona lebih kecil dibandingkan dengan virus flu burung atau H5N1.

“Flu burung angka kematian 80% lebih mengerikan dari Korona. Namun transmisi Korona cepat. Korona kematian 3%. Chance untuk sembuh tinggi,” jelasnya.

hingga saat ini ada 2.790 pasien virus Korona yang dalam kondisi kritis dan 653 pasien sembuh.

Hingga hari ini, Selasa, total korban jiwa akibat virus Korona mencapai 425 orang. Sebagian besar dari korban itu meninggal di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Dilansir worldometers.info, hingga saat ini ada 2.790 pasien virus Korona yang dalam kondisi kritis dan 653 pasien sembuh.

Diah menerangkan pada kasus virus Korona, risiko kematiannya terjadi pada 9 hari setelah dinyatakan terjangkit atau dalam tahap Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), yakni ketika kondisi pernapasannya buruk atau mengalami gagal nafas.

Sementara pada flu burung, risiko kematian muncul pada 5 hari setelah virus itu menyerang tubuh manusia. Pada dasarnya, perkembangan virus bisa dilumpuhkan tergantung pada daya tahan tubuh manusia itu sendiri. Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk menghentikan pertumbuhan virus asal dalam kondisi optimal.

Supaya optimal, orang yang memiliki gejala terpapar virus Korona novel harus diberi terapi seperti cairan dan makanan cukup. Kalau ada batuk harus diberi obat batuk supaya mengurangi frekuensi batuk. Kalau batuknya berdahak, pasien perlu mengkonsumsi obat pengencer dahak supaya dahak keluar sehingga paru-paru membaik.

“Pasien bisa sembuh, iya karena makin lama-kelamaan terapi suportif yang bagus itu, maka jumlah virusnya habis sendiri, mati sendiri,” jelasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini