Hari Kanker Sedunia, Curhat Penyintas Kanker Febria Silaen: Kemoterapi Harus Siap Disakiti

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 05 Februari 2020 20:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 05 612 2163946 hari-kanker-sedunia-curhat-penyintas-kanker-febria-silaen-kemoterapi-harus-siap-disakiti-uYXFliirE0.jpg Penyintas kanker Febria Silaen. (Foto: Instagram/@ferbriasilaen)

STIGMA yang dialami pengidap kanker masih ada hingga kini. Febria Silaen, seorang penyintas kanker, terbukti pernah mengalami stigma dari orang-orang sekitar. Itu sangat membekas di hatinya.

Tidak ada satu pun manusia yang ingin dirundung rasa sakit. Apalagi sampai didiagnosa mengidap penyakit mematikan seperti kanker yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Kehidupan ini begitu sayang untuk disia-siakan hanya dengan berpasrah diri, tanpa melakukan 'perlawanan' dan perjuangan yang berarti.

Kisah Febri Silaen mungkin bisa menjadi inspirasi, serta membuka mata dan hati untuk lebih peka lagi, dalam menyikapi berbagai isu kesehatan. Terutama stigma terhadap pengidap kanker.

febria silaen

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Febria Silaen mencurahkan isi hatinya. Pada 2016 lalu, Febria Silaen divonis mengidap penyakit troblas ganas atau sering juga disebut dengan istilah kanker rahim.

Meski kini dia sudah dinyatakan sembuh, Febria Silaen ingat betul perjuangan yang harus ia lalui selama empat tahun terakhir. Selain harus menjalani kemoterapi secara rutin, ada beberapa kenangan pahit. Hingga saat ini masih membekas di hati dan pikirannya.

Sejak divonis mengidap kanker rahim, Febria Silaen sebetulnya sudah mencoba ikhlas dan menerima takdir yang harus dia jalani. Namun, dia justru merasa terpukul ketika melihat respon dari orang-orang sekitarnya.

Alih-alih mendapat dukungan moril, Febria Silaen malah menerima penghakiman dari orang-orang terdekatnya.

"Yang divonis harus kemoterapi itu ternyata harus siap sakit dan disakiti. Lho kok gitu? Lah iya. Enggak percaya? Pas orang tahu kamu perlu dikemoterapi. Lalu orang kasak-kusuk, pasti salah makan, pasti doyan jajan a-z, merokok, bergadang, males olahraga. Sederet penghakiman bakal datang suka-suka hati yang bicara," ungkap Febria.

Tak berhenti di situ saja. Sesudah melakukan kemoterapi, penghakiman itu masih terus berlanjut. Padahal, kondisi tubuhnya belum pulih 100 persen.

Rasa mual, pusing, gatal, seolah menjadi 'sahabat' Febria Silaen selama menjalani kemoterapi. Ditambah lagi hilangnya nafsu makan dan efek samping lain seperti muntah-muntah.

Hal tersebut ternyata tidak cukup untuk menyadarkan orang yang ada di sekitarnya berhenti menstigma. Padahal yang dibutuhkan Febria Silaen kala itu hanyalah dukungan dan doa yang tulus dari hati.

Tapi apa yang dia dapatkan? Lagi-lagi penghakiman dan kalimat-kalimat yang tanpa disadari telah melukai hatinya.

"Enggak bisa makan eh malah dicecer lagi dengan makanan yang super bersih dan harus dimakan. Kalau gak mau? Ya siap siap disakiti telinga dengan kalimat 'Mau sembuh, makan dong! Ini bagus mengandung a-z yang dibutuhkan. Kamu semangat dong!'," kata Febria Silaen.

Bersambung

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini