Bogor Street Festival CGM 2020 Kibarkan Semangat Unity in Diversity

Minggu 09 Februari 2020 09:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 09 12 2165613 bogor-street-festival-cgm-2020-kibarkan-semangat-unity-in-diversity-Ww1mYpj4vl.jpeg Foto: Kemenpar

JAKARTA – Semangat persatuan dalam keberagam dikibarkan Bogor Street Festival Cap Go Meh (CGM) 2020. Festival ini jadi panggung besar lintas budaya dari berbagai daerah di tanah air dan mancanegara. Hadirnya mereka di Bogor menegaskan destinasi wisata ini super ramah bagi semua latar belakang. Bogor Street Festival CGM 2020 resmi digelar Sabtu (8/2/2020).

Festival ini dikemas kolosal di sepanjang Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. Mengusung semangat ‘Ajang Budaya Pemersatu Bangsa’, festival ini memiliki 42 konten dan 30%-nya berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Slot mancanegara diisi Taiwan dengan konten Lan Yang Dance dan Electric Techno Neon Gods.

“Bogor Street Festival CGM 2020 diisi oleh beragam latar budaya. Kami ingin semuanya bersatu dalam warna keberagaman. Perbedaan tersebut harus dirawat menjadi sebuah aset dan kekayaan yang luar biasa. Kehadiran mereka di sini telah menebarkan inspirasi dan energi positif,” ungkap Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Menegaskan keberagaman budaya, Bogor Street Festival CGM 2020 memang menampilkan Pawai Baju Adat 34 Provinsi. Selain itu, ada 10 seni dan budaya otentik dari berbagai daerah di Indonesia. Selain Bogor, kekayaan Jawa Barat juga disajikan Purwakarta, Karawang, Ciamis, hingga Kabupaten Bandung Barat. Purwakarta menampilkan Nyi Pohaci. Nyi Pohaci menjadi representasi dari Dewi Sri (Dewi Padi).

Untuk Purwakarta menampilkan permainan tradisional Egrang. Dalam perkembangannya, Egrang pun terbagi menjadi Pegangan, Pasak, Drywall, dan Pegas. Ada juga Sang Hyang Awi karya Arga Studio, Kabupaten Bandung Barat. Memakai properti bambu dan gerak silat, tari kontemporer tersebut selalu memberi pesan menarik.

Selain Bandung Barat, nuansa bambu juga disajikan Ciamis dalam bentuk Mabokuy. Mobokuy sejatinya karya seni berbentuk manusia bambu. Unsur pembuatnya garabadan atau beragam peralatan rumah tangga yang terbuat dari bambu. Semuanya disusun jadi bentuk manusia dalam ukuran raksasa. Seni ini kali pertama ditampilkan dalam HUT Ciamis ke-373 pada Juni 2015.

“Semua kekayaan seni dan budaya ditampilkan dengan sangat menarik. Hal ini menjadi bukti betapa kaya dan beragamnya destinasi wisata di Indonesia. Untuk itu, kami mengundang wisatawan dunia untuk datang ke sini. Selain kekayaan budayanya, alam di Indonesia sangat eksotis,” tegas Bima.

Menegaskan kekayaan Bogor Street Festival CGM 2020, kekayaan seni dan budaya dari 6 daerah juga disajikan. Nusa Tenggara Timur memajang eksotisnya Tari Lego-Lego. Berasal dari Pulau Alor-Pantar, tarian multi etnik dibawakan melingkar oleh penari putra/putri. Sembari menari, ada pembayaan syair Lego-Lego yang berisi nasehat dan penghormatan kepada sesama.

Warna otentik lain dimunculkan Papua dengan Tari E Mambo Simbo. Dibawakan dinamis, tarian ini pun bercerita pencarian Mambo oleh anak laki-lakinya. Selain tarian, E Mambo Simbo juga dikenal sebagai lagu daerah Papua. Lagu ini bercerita pertemuan ayah dan anak yang lama terpisah. Liriknya sederhana dan terdiri pengulangan kata, tapi musiknya sangat dinamis. Musik pengiringnya gitar dan perkusi.

Tidak mau kalah dengan lainnya, Sulawesi Selatan menampilkan Tari Mappadendang. Tarian ini jadi ungkapan rasa bahagia atas panen padi yang didapatkan. Mappadendang dilakukan dengan menumbuk lesung yang berisi gabah. Masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Bugis, percaya bahwa ada warna magis dalam Mappadendang. Sebab, dinilai sebagai ritual pensucian gabah hasil panen.

“Kehadiran beragam seni dan budaya membuat Bogor Street Festival CGM 2020 semakin kaya. Pesan persatuan yang disampaikan memang sangat luar biasa. Menjadi event besar, Bogor Street Festival CGM 2020 ideal sebagai branding potensi wisata,” terang Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Wawan Gunawan.

Bogor Street Festival CGM 2020 semakin kaya dengan seni dan budaya Tandok asal Sumatera Utara. Tandok merupakan rajutan bambu sebagai wadah beras. Dikemabngkan sebagai tarian, Tandok menjadi representasi masyarakat Batak yang agraris. Selain Sumatera Utara, Jawa Timur juga menampilkan Reog Ponorogo. Tarian tradisional ini identik dengan kepala singa berhiaskan bulu merak.

Reog Ponorogo semakin menarik dengan kehadiran penari bertopeng dan berkuda lumping. Ada juga warok dan gemblak. Parade budaya nusantara di Bogor Street Festival CGM 2020 semakin lengkap oleh Ogoh-Ogoh Bali yang dibawakan Brimob Resimen II Pelopor (Pure Natashakti). Ogoh-Ogoh merupakan seni patung dalam rupa Bhuta Kala. Representasi kekuatan alam semesta (Bhu) dan waktu (Kala).

“Indonesia memang kaya dengan budaya. Setiap daerah memiliki ciri dan kekhasannya masing-masing. Setelah menikmati Bogor Street Festival CGM 2020 ini, wisatawan bisa berkeliling ke berbagai destinasi di Indonesia. Selain atraksinya, aksesibilitas dan amenitasnya luar biasa, silahkan jajal kuliner negara kami yang sangat juara," tutup Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf Agustini Rahayu.

(cm)

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini