nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tips Pola Asuh Anak Cermat Gunakan Kata ''Jangan'', Tak Boleh Sembarangan Lho!

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 09 Februari 2020 11:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 09 196 2165606 tips-pola-asuh-anak-cermat-gunakan-kata-jangan-tak-boleh-sembarangan-lho-HwS2XXu4de.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Anak di masa tumbuh kembangnya bagaikan sponge, cepat menyerap informasi apapun. Tak hanya yang dia lihat, tetapi juga didengar secara rutin. Karenanya, dalam hal pola asuh sudah sepatutnya memang orangtua sebagai guru pertama dalam kehidupan seorang anak menjaga ucapannya. 

Dalam pola asuh secara umum kata-kata umpatan, makian, dan sejenisnya adalah kata-kata yang dilarang untuk diucapkan kepada anak. Tapi di luar ini, penggunaan kata sesimpel  “Jangan” harus digunakan sangat hati-hati dan bijaksana oleh orangtua terhadap anak.

Tidak dipungkiri memang, ''jangan'' menjadi kata yang paling mudah dan sering digunakan oleh orangtua saat melarang anak melakukan sesuatu. Dijelaskan oleh Karina Istifarisny, psikolog anak, orangtua harus memahami bahwa di periode usia 2-3 tahun, terlalu sering mendengar kata jangan dapat membuat anak diliputi rasa ragu-ragu hingga malu.

“Nah, soal jangan bilang jangan, harus bijaksana untuk anak-anak usia dua sampai tiga tahun, lagi aktif-aktifnya jalan, lari-larian, manjat-manjat. Kalau terlalu sering dilarang apalagi sambil diteriakin di depan umum, bisa muncul rasa malu dan ragu-ragu pada anak. "Ini benar enggak ya? Duh takut salah nanti kena marah, ah malu nanti kalau gini dimarahi,” jelas Karina, saat dihubungi Okezone, belum lama ini melalui sambungan pesan.

Pola Asuh Anak

Karina menegaskan, bukan berarti kata jangan ini tidak boleh diucapkan sama sekali terhadap anak. Namun, yang lebih tepat adalah dipakai untuk situasi dan kondisi yang lebih tepat. Misalnya ketika memperingati anak melakukan sesuatu yang sangat berbahaya atau mengancam kesehatan jiwa. Contohnya saat anak mendekati sumber listrik atau sumber panas.

Lebih lanjut, Karina menjelaskan kata ''jangan'' bukan dipakai untuk melarang dan membatasi ruang gerak anak ketika sedang bermain, padahal bermain di lingkungan yang kondusif. Anak yang tadinya bisa mendapatkan stimulasi baru menjadi terhambat.

“Demikian pula anak di bawah 5 tahun, lagi aktif-aktifnya mencoba hal baru. Kalau terlalu banyak kita bilang jangan, contoh anak ingin main pasir, “jangan dek kotor!” Padahal kalau main dia belajar nulis di atas tanah pakai kayu. Akhirnya yang tadinya bisa kreatif, dapat stimulasi baru, malah terhambat. Maka itu, baiknya kata jangan ini dipakai untuk kasus-kasus berbahaya, misalnya anak mau memainkan colokan listrik kita bisa pakai kata “Jangan dek! Nyetrum!”,” tambahnya.

Idealnya sebagai orangtua bisa menerapkan memberikan opsi alias pilihan dengan pemaparan yang jelas. Dicontohkan Karina, misalnya ketika melarang anak main di tengah hari bolong saat cuaca terik. Sebaiknya bukan langsung menghardik anak dengan mengucapkan jangan keluar, tapi tawarkan anak untuk bermain di sore hari dan jelaskan konsekuensi yang bisa dirasakan anak jika tetap bermain keluar rumah.

“Dibandingkan bilang, Jangan keluar! Panas!, kan sebaiknya kita sebagai orangtua bisa menjelaskan kalau di luar itu cuaca sedang terik dan lebih baik menunggu di saat sudah sore. Bisa kita bilang ke anak, “Dek di luar panas loh sekarang. Tunggu agak sore, mau pakai topi, atau payung? Kalau panas-panasan gitu bisa pusing loh nanti. Dengan begitu, anak belajar memilih juga menerima konsekuensi atas pilihan mereka sendiri,” pungkas Karina.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini