nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tips Pola Asuh, Jangan Labeli si Kecil dengan Sebutan Anak Nakal

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 09 Februari 2020 20:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 09 196 2165669 tips-polah-asuh-jangan-labeli-si-kecil-dengan-sebutan-anak-nakal-OrOyupwpJI.jpg Ilustrasi (Foto : Parenting)

Banyak orangtua atau sanak keluarga yang merasa kewalahan saat harus menghadapi anak yang dianggap nakal. Pada dasarnya, pelabelan anak nakal kurang tepat. Dalam istilah psikologi, lebih tepat disebut sebagai anak yang tidak patuh atau tidak taat pada peraturan.

Menghadapi pola tingkah anak-anak semacam ini memang susah-susah gampang. Bukan hanya dirasakan oleh para orangtua, tetapi juga oleh sanak-keluarga, misalnya para om dan tante.

Kemudian, apa sih tips dalam menghadapi anak yang tidak patuh ini? Dijawab oleh psikolog anak dan remaja, Sani Hermawan, cara pertama dalam menghadapi anak yang sedang tidak taat atau tak patuh ini adalah memberitahu bahwa tindakan yang mereka lalukan merupakan sesuatu yang salah. Namun, Sani mengingatkan di sisi lain kita sebagai orang dewasa jangan sampai langsung menghakimi anak dengan melabeli dia dengan sebutan nakal.

“Kasih tahu saja kalau tindakannya salah, kasih taunya tanpa nge-judge alias melabeli kalau dia anak nakal. Anak dengar yang negatif, nanti anaknya bisa condong jadi negatif juga,” ujar Sani, kala dihubungi via sambungan telefon baru-baru ini.

Ibu dan Anak

Momen memberitahu anak bahwa tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang salah, tidak bisa sembarangan dilakukan. Sebab, momen menjelaskan kepada anak ini juga sekaligus memberitahu mereka bahwa ada konsekuensi yang harus diterima jika tetap tidak patuh.

“Komunikasi sama anak. Kenapa hal itu enggak boleh dilakukan, kasih tahu dari awal konsekuensi yang ia terima jika nekat melakukan kesalahan itu. Jadi anak enggak bingung dan kaget. Kalau masih diulang padahal sudah dikasih tahu, ya mau enggak mau harus kasih tahu lagi berulang-ulang. Kuncinya ya sabar dan tetap enggak boleh nyakitin fisik dan batin anak,” imbuhnya.

Kemudian bagaimana posisinya, jika kita hanya sebagai om, tante atau sepupu? Berhak kah kita memberikan konsekuensi pada anak yang dinilai tak patuh dan melakukan kesalahan tersebut?

Jawabannya tentu saja tidak, sebab yang berhak untuk memberikan konsekuensi pada anak hanyalah orangtuanya.

“Kalau jadi tante atau om, ya anak itu sebatas kita peringatkan kita kasih tahu. Misalnya, “Jangan loncat-loncat di kursi ya, karena kursi bukan untuk diloncati”. Selebihnya, langsung beritahu orangtuanya saja,” tutup Sani.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini