nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pak Raden di Mata Pendongeng Profesional: Tak Tergantikan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 11 Februari 2020 20:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 11 196 2166956 pak-raden-di-mata-pendongeng-profesional-tak-tergantikan-PpVqiujuIN.jpg Pak Raden (Foto: Okezone)

Pendongeng profesional, Poetri Soehendro mengatakan, Pak Raden adalah pendongeng yang sangat berarti bagi hidupnya.

Almarhum Pak Raden atau Drs. Suyadi atau Raden Soejadi memiliki makna besar bagi perjalanan hidup Poetri Soehendro. Mungkin, tanpa nasihat-nasihat Pak Raden, Poetri tak akan bisa seperti sekarang.

Poetri Soehendro mengawali karier sebagai pendongeng profesional itu sejak 2000. Bukan waktu yang sebentar bagi Poetri untuk tetap mempertahankan eksistensinya sebagai penyebar dongeng pada anak-anak sekali pun di usianya yang sudah tak muda lagi. Tak energik lagi.

 Poetri

Perempuan kelahiran 7 Juli 1964 itu menjelaskan, pertemuannya dengan Pak Raden pertama kali di saat mereka manggung bersama di salah satu mall di Pluit, Jakarta Utara. Momen itu masih ada di benak Poetri sampai sekarang.

"Jadi, pas pertama kali ketemu Pak Raden, aku rasanya mau pingsan, karena aku nggak tau kalau di situ ada Pak Raden," ceritanya pada Okezone beberapa waktu lalu.

Poetri menerangkan, saat itu ia diundang pihak mall untuk menjadi pendongeng tamu di acara lomba mendongeng. Dirinya tahu memang ada Pak Raden di sana sebagai salah satu jurinya, namun ia tak menyangka kalau Pak Raden melihat aksinya.

"Aku mikirnya, bapak (Pak Raden) masuk ke ruangan dan memberi nilai, bukannya ada di area lomba," ucapnya.

Nah, setelah Poetri turun panggung, kemudian ada suara yang sangat familiar terdengar di kupingnya. Suara itu mengutarakan kalimat ini, 'Hei Ndok, tadi aku lihat kamu' dan itu adalah suara Pak Raden.

Setelah mendengar kalimat itu, jantung Poetri berdetuk kencang. Ia tak bisa membuang mukanya, karena Pak Raden kini ada di sampingnya. "Itu, rasanya aku mau pingsan aja," katanya lantas tertawa.

Ia merasa demikian karena dia tampil bukan untuk ditonton Pak Raden. Setelah itu, Poetri hanya bisa senyum malu-malu kucing ke Pak Raden. Tak ada perasaan dan ekspresi yang bisa dikendalikan saat itu. Semuanya begitu absurd.

Setelah itu, Poetri kerap bertemu dengan Pak Raden. Sikap 'blak-blakannya' menjadikan ia sadar betul bahwa masih banyak pelajaran yang harus ia kuasai dari saran Pak Raden.

Seperti salah satu contoh pengalaman saat Poetri menceritakan kisah 'Anak Kucing'. Poetri secara jelas mengatakan dalam kisah dongeng itu bahwa anak kucing tersebut sangat nakal.

Setelah itu, Pak Raden mendatanginya dan memarahinya. "Kamu nggak boleh bilang seperti itu karena aku pencinta kucing," kata Poetri menirukan pernyataan Pak Raden.

Awalnya ia bingung kenapa Pak Raden sekesal itu setelah Poetri bercerita mengenai 'Anak Kucing' yang disebut sangat nakal. Namun, sampai akhirnya ada pengalaman yang menjelaskan sikap Pak Raden tersebut.

"Ya, suatu hari aku mendongeng dan bertemu dengan teman yang ternyata ia membawa anak perempuannya. Nah, aku mulai mendongeng seperti biasa dan setelah itu tanpa sadar aku menyebut nama anak temanku yang aku cap sebagai anak nakal. Seketika setelah itu si anak menangis kejer," ungkap Poetri.

Secara tidak langsung, ternyata nama yang Poetri gunakan untuk menjelaskan anak nakal adalah nama anak temannya. Sontak, dicap sebagai anak nakal, si anak pun menjerit dan menangis.

"Setelah ditarik ke belakang, pengalaman Pak Raden yang mengajarkan aku agar tak melabeli apapun. Sejak saat itu, aku nggak pernah lagi memberi label pada apapun termasuk kucing nakal," kata Poetri.

Poetri yang merupakan lulusan S2 Psikologi Universitas Indonesia itu menerangkan bahwa Pak Raden adalah sosok legendaris dunia dongeng Indonesia yang tak ada duanya. Tak tergantikan.

"Pak Raden itu pendongeng yang tulus dan ikhlas dalam mendongeng. Itu kenapa dia selalu berhasil menceritakan kisahnya kepada anak-anak. Ia tidak tergantikan," ungkap Poetri mengenang Pak Raden.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini