nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Begini Alur Pemeriksaan Spesimen COVID-19 di Lab Litbangkes Kemenkes

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 12 Februari 2020 21:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 12 481 2167541 begini-alur-pemeriksaan-spesimen-covid-19-di-lab-litbangkes-kemenkes-Bl0EtXIH4l.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Sebagai salah satu langkah kesiagapan pemerintah Indonesia mewaspadai penyebaran COVID-19, pada Senin, 10 Februari 2020 pukul 18.00 WIB ada 64 spesimen COVID-19 yang dikirim dari 16 Provinsi di Indonesia.

64 spesimen ini dikirim ke Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), Kementerian Kesehatan. Setelah melalui pemeriksaan, hasilnya menunjukkan sebanyak 62 spesimen negatif COVID-19 dan dua spesimen yang masih dalam proses pemeriksaan.

16 Provinsi tersebut adalah DKI 14 spesimen, Bali 11 spesimen, Jawa Tengah 7 spesimen, Jawa Barat 6 spesimen, Jawa Timur 6 spesimen, Banten 4 spesimen, Sulawesi Utara 4 spesimen, Daerah Istimewa Yogyakarta 3 spesimen, Kalimantan Barat 2 spesimen, Jambi satu spesimen, Papua Barat satu spesimen, Nusa Tenggara Barat satu spesimen, Kepulauan Riau satu spesimen, Bengkulu satu spesimen, Kalimantan Barat satu spesimen, dan terakhir Sulawesi Tenggara satu spesimen.

Litbangkes

Alur prosedur pemeriksaan spesimen di laboratorium Badan Litbangkes ini dimulai dari Penerimaan Spesimen, Pemeriksaan Spesimen, dan Pelaporan.

Pada tahap penerimaan, spesimen diambil dari pasien di rumah sakit rujukan kemudian dikirim ke laboratorium Badan Litbangkes. Spesimen yang diterima ini dari satu orang pasien, jumlahnya bukan cuma satu spesimen, tapi setidaknya ada tiga spesimen.

Kemudian lanjut pada tahap pemeriksaan? Di tahapan ini, spesimen yang diterima diekstraksi untuk diambil RNA nya. RNA sudah ada, lalu dicampurkan dengan Reagen (pereaksi kimia) untuk pemeriksaan dengan metode Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (PCR).

PCR merupakan pemeriksaan dengan menggunakan teknologi amplifikasi asam nukleat virus, untuk mengetahui ada tidaknya virus atau DNA virus, dan untuk mengetahui genotipe virus yang menginfeksi bisa dilakukan sekuensing.

Waspada COVID-19

(Foto Ilustrasi)

Setelah itu baru dimasukan ke mesin, yang berfungsi untuk memperbanyak RNA agar bisa terbaca oleh spektrofotometer. Akhirnya, hasilnya akan didapat positive control dengan gambaran kurva sigmoid. Sedangkan kalau hasilnya negatif, maka tidak berbentuk kurva, bentuknya mendatar saja.

Tahapan ini adalah satu quality assurance untuk memastikan apa yang diperiksa itu benar atau tidak, kemudian ada kontrol lainnya. Jadi untuk mengerjakan pemeriksaan spesimen ini, memang banyak hal yang harus terpenuhi sebelum menyatakan bahwa sampel yang diperiksa hasilnya positif atau negatif.

“Jadi kalau positif, sampel harus menyerupai dengan positive controlnya. Jadi selama ini spesimen yang diperiksa negatif karena semua datar menyerupai negative kontrolnya,” kata dr. Vivi, kala ditemui baru-baru ini di Gedung Balitbangkes, bilangan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.

Terakhir, barulah sampai pada tahap pelaporan. dr Vivi menegaskan, untuk bisa sampai di pelaporan hasil ada alur proses yang wajib dijalani sesuai dengan pedoman yang ditetapkan WHO. Bahwasanya proses pengambilan spesimen tidak dilakukan sekali tapi beberapa spesimen pada satu orang pasien.

Proses pemeriksaan spesimen yang dilakukan di laboratorium Litbangkes, Kemenkes ini dikerjakan di laboratorium Biosafety Level (BSL) 2 ini sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya memang pedomannya sudah ada, dan semua negara menggunakan menggunakan BSL 2.

Litbangkes

Fasilitas di laboratorium Litbangkes sendiri, lanjut dr. Vivi, ada fasilitas BSL 2, BSL 3 dan Lab Biorepository untuk penyimpanan materi genetik juga sekaligus spesimen klinis dari pasien. Sekaligus dilengkapi alat dan kemampuan yang sudah terstandar oleh WHO karena memang akreditasinya dicek rutin setiap tahun oleh staf WHO yang datang ke laboratorium.

“Setiap tahun WHO melakukan quality assurance atau akreditasi ke lab kami, dan tiap tahun memang ada orang dari WHO datang untuk akreditasi lab,” tutup dr. Vivi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini