Hari Valentine, Restoran di China Sepi Gara-Gara COVID-19

Tiara Syifa, Jurnalis · Jum'at 14 Februari 2020 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 14 298 2168440 hari-valentine-restoran-di-china-sepi-gara-gara-covid-19-Yi3KZI4oX6.jpg Makanan yang disajikan di seul & SEUL. (Foto: Instagram/Timeoutshanghai)

MEREBAKNYA wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), perayaan Hari Valentine di China jadi sepi. Salah satunya terlihat di Kota Shanghai, tak sedikit restoran sepi pengunjung.

Salah satunya adalah restoran makanan Prancis, seul & SEUL di Shanghai. Founder seul & SEUL Bill Hu, merasakan sepinya restoran pada perayaan Hari Valentine 2020.

Restoran yang terletak di mal ternama di China ini nampak mematikan lampurnya. Hanya terlihat tumpukan gelas-gelas wine, suasana dapur tenang, serta dua karyawan yang bertugas harus melakukan desinfeksi.

seul & SEUL

“Wabah virus ini datang tiba-tiba. Jumlah pemesanan tahun ini hampir nol,” kata Hu, sepeti yang dikutip Okezone dari Channelnewsasia, Jumat (14/2/2020).

Ia menambahkan, sebelumnya terdapat 170 pelanggan yang reservasi pada Hari Valentine 2020. “Banyak pelanggan yang telah membuat reservasi dan membatalkannya," ungkapnya.

Restoran ini hanya satu dari sekian banyak bisnis yang terdampak akibat wabah COVID-19. Pihak berwenang meminta orang-orang untuk tetap di rumah dan meninggalkan kota-kota besar, sehingga terlihat seperti kota hantu.

Bukan cuma Bill hu, Austin Hu, koki di Heritage by Madison, sebuah restoran ternama di The Bund Riverside Hotel yang terkenal di Shanghai merasakan hal sama. Austin Hu mengatakan, beberapa minggu terakhir ini kondisinya sangat menyedihkan.

“Sejauh ini Hari Valentine menyedihkan, karena kami hanya memiliki satu pesanan,” tambahnya.

Korban wabah COVID-19 semakin meningkat sebelum liburan Tahun Baru Imlek. Padahal musim itu bagus untuk pariwisata dan perhotelan.

Pemerintah China pun memperpanjang hari libur dan menetapkan 10 Februari, sebagai waktu melanjutkan pekerjaan.

Beberapa restoran berusaha memperbaiki dengan menawarkan jasa pengiriman makanan. Tetapi ada juga yang berjuang, karena kekurangan staf. Beberapa pelanggan juga mengatakan, mereka tidak berminat untuk merayakan Hari Valentine.

“Saya tidak akan mempertaruhkan nyawa hanya untuk pergi makan di luar,” kata Dina Li, pelanggan yang membatalkan makan malam bersama suaminya untuk menghindari penyebaran.

“Bahkan untuk take out, saya hanya memesan KFC dan McDonald’s karena merek-merek besar tersebut harus menjamin keamanan makanan," sambungnya.

Di mal Shanghai, pemilik seul & SEUL, Hu, mengatakan ingin mengakhiri krisis. Perkiraan kerugian yang didapat sekitar yuan700 ribu atau sekira Rp1,3 miliar. Sebagian besar berasal dari pembayaran sewa, gaji dan bahan-bahan makanan.

“Bagi orang-orang yang tidak memiliki penghasilan, arus kas kami mungkin bisa bertahan sampai satu atau dua bulan lagi dan itu batasnya,” tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini