Rokok Elektronik Diklaim Efektif Hilangkan Kebiasaan Merokok, Benarkah?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 14 Februari 2020 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 14 481 2168548 rokok-elektronik-diklaim-efektif-hilangkan-kebiasaan-merokok-benarkah-nWE0worKJh.jpg Ilustrasi (Foto : Upi)

Merokok menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, kanker, dan lainnya. Hal tersebut menyebabkan banyak orang berusaha berhenti merokok. Sekarang, ada berbagai cara yang diklaim bisa membantu mereka melakukannya, salah satunya adalah rokok elektronik.

Sebuah studi yang didukung oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK menjelaskan bagaimana rokok elektrik dapat menjadi terapi untuk berhenti merokok.

Studi yang dilakukan di Inggris tersebut dimulai pada April 2015 dan berakhir pada Maret 2018. Penelitian ini melibatkan 886 orang yang berusia 18 tahun ke atas, dan merupakan perokok aktif yang sedang mengikuti program berhenti merokok.

Peneliti kemudian membagi separuh dari total partisipan untuk menggunakan rokok elektronik dan separuhnya lagi menggunakan produk pengganti nikotin (seperti nicotine patch dan permen karet nikotin). Semua partisipan studi juga mendapatkan layanan konseling individual setiap minggu selama empat minggu.

Rokok Elektrik

Setelah setahun, pengurangan rokok akan terbukti dengan mengukur banyaknya karbon monoksida yang dihirup. Hasil temuan pertama dari penelitian itu adalah 18% partisipan yang menggunakan rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun, dan hanya 10% yang menggunakan NRT berhenti merokok.

Dari total orang yang sukses berhenti merokok tersebut, 80% partisipan yang menggunakan rokok elektronik masih menggunakan vape, dan hanya 9% pengguna NRT tetap menggunakan produk tersebut.

Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa rokok elektronik diklaim lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin.

“Maka dari itu, saya mengajak semua pihak untuk tidak membuat asumsi berdasarkan sumber-sumber yang tidak bisa dibuktikan secara metodologis,” ujar drg. Amaliya, peneliti dari Universitas Padjadjaran dan co-founder Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik, seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (14/2/2020).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini