Diklaim Jadi Alternatif, Dokter Paru : Rokok Elektrik Tak Terbukti Hilangkan Kebiasaan Merokok

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 14 Februari 2020 19:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 14 481 2168635 diklaim-jadi-alternatif-dokter-paru-rokok-elektrik-tak-terbukti-hilangkan-kebiasaan-merokok-p0VxWCu1fu.jpg Ilustrasi (Foto : Loyalmedicine)

Perdebatan tentang aman atau tidaknya rokok elektronik bagi kesehatan masih terus berlanjut. Pasalnya, masih banyak ahli medis yang mengklaim bahwa, rokok elektrik bisa dijadikan alternatif untuk berhenti merokok.

Hal tersebut merujuk pada sebuah studi yang didukung oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK. Hasil temuan pertama dari penelitian itu adalah 18% partisipan yang menggunakan rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun, dan hanya 10% yang menggunakan Nicotine Replacement Therapy NRT berhenti merokok.

Dari total orang yang sukses berhenti merokok, 80% partisipan yang menggunakan rokok elektrik masih menggunakan vape, dan hanya 9% pengguna NRT tetap menggunakan produk ini.

Studi ini juga menyebutkan, batuk dan dahak cenderung lebih rendah pada partisipan yang menggunakan rokok elektrik. Mereka pun mengklaim bahwa rokok elektronik lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin.

Klaim tersebut dibantah secara terang-terangan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K). Menurutnya, sebuah produk baru dapat dikatakan efektif dalam menghentikan kebiasaan merokok, apabila memenuhi prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Untuk kasus rokok elektronik ini sendiri, sejak 2014 lalu WHO sebetulnya telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada cukup bukti untuk menyatakan rokok elektronik dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.

"Kenapa WHO tidak merekomendasikan?, Karena hasil risetnya tidak konsisten. Analoginya, obat itu baru dinyatakan ampuh atau efektif bila semua penelitian menunjukkan hasil yang sama. Sementara untuk rokok elektronik, hampir ada ratusan riset, dan ketika digabung dan dianalisa, si rokok elektronik ini ternyata tidak terbukti efektif menghilangkan kebiasaan merokok," tegas dr. Agus saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Kamis (13/2/2020).

Vape

Agus kemudian menjelaskan secara gamblang 8 prinsip yang telah dikeluarkan WHO bagi pasien yang ingin menjalani Terapi Pengganti Nikotin (NRT). Kedelapan prinsip inilah yang nantinya akan membuktikan bahwa rokok elektronik tidak terbukti menghilangkan kebiasaan merokok.

Pertama, pengguna NRT harus sudah berhenti merokok sebelum memulai terapi. Apabila pasien masih menggunakan rokok konvesional dan NRT secara bersamaan (dual user), dikhawatirkan akan terjadi yang namanya double toxic, dan dapat memicu risiko kesehatan yang lebih tinggi. Pasalnya, kedua produk ini sama-sama memiliki kandungan nikotin.

Ironisnya, hasil penelitian yang dilakukan dr. Agus bersama mahasiswi Kedokteran Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa jumlah perokok ganda atau dual user di Indonesia terbilang tinggi, hingga mencapai 61,5%.

Berhenti Merokok

Kedua, penggunaan NRT bertujuan untuk mengatasi gejala putus nikotin saat berhenti merokok (withdrawal). Ketiga, NRT juga harus memiliki efektivitas yang baik untuk membantu pasien berhenti merokok.

Keempat, NRT tidak boleh menyebabkan masalah kesehatan baru di kemudian hari. Kenyataannya, selain mengandung nikotin, rokok elektrik juga mengandung karsinogen yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti EVALI hingga kanker. Kelima, NRT dapat mengurangi atau menghilangkan banyak risiko kesehatan akibat rokok.

Keenam, penggunaan NRT harus dengan supervisi oleh tenaga kesehatan, terutama pada pengguna berusia muda. Dalam arti lain, harus ada panduan dari tenaga medis karena produk ini dipakai untuk pengobatan, sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan efek samping. Faktanya, rokok elektrik cenderung dijual bebas dan bisa didapatkan dengan mudah.

Ketujuh, NRT hanya dapat digunakan dalam kurun waktu 12 minggu atau 3 bulan saja. Apabila dalam kurun waktu 3 bulan itu pasien berhasil berhenti merokok, maka penggunaan NRT harus segera dihentikan. Faktanya, banyak orang yang berhasil berhenti merokok namun mereka masih tetap menggunakan rokok elektrik sebagai gantinya, karena dinilai lebih aman.

Berhenti Merokok

Kedelapan, dosis NRT harus diturunkan secara berkala. Tujuannya adalah untuk mengurangi adiksi pada pasien.

"Jadi, bila dikaitkan dengan rokok elektronik, produk ini sejatinya tidak dapat memenuhi semua prinsip tersebut. Oleh karena itu, saya katakan rokok elektronik tidak terbukti dapat menghilangkan kebiasaan merokok. Alih-alih dijadikan alternatif, malah dijadikan pengalihan dari rokok konvesional," tegas dr. Agus.

"Intinya kalau mau berhenti merokok datanglah ke dokter spesialis paru. Lakukan konseling, jangan beralih ke rokok elektronik," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini