nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Obat Antirematik Efektif Atasi COVID-19? Begini Kata Peneliti China

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 17 Februari 2020 12:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 17 481 2169549 obat-antirematik-efektif-atasi-covid-19-begini-kata-peneliti-china-UoguBIHPTj.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SAMPAI detik ini, obat untuk mengatasi penyakit COVID-19 memang belum berhasil diciptakan. Obat penyembuhnya pun belum dipastikan, meski begitu pasien akan diatasi gejala penyakitnya.

Tidak tinggal diam, pemerintah China terus melakukan penelitian terkait dengan upaya penyembuhan pasien COVID-19 yang telah menewaskan 1.775 jiwa dari 71.326 kasus secara global.

Uji klinis terkait antivirus pun tengah dilakukan. Ya, pemerintah China sedang melakukan uji klinis terkait antivaksin virus korona baru (2019-nCoV). Tiga obat disebutkan di sana, Remdesivir, Chloroquine Phosphate, dan Favipiravir.

Selain tiga obat ini, pemerintah China pun diketahui telah melakukan uji coba penyembuhan pasien COVID-19 dengan menggunakan plasma konvalesen. Plasma ini adalah plasma dari pasien COVID-19 yang pulih dan dikumpulkan oleh tim medis.

Plasma ini adalah plasma dari pasien COVID-19 yang pulih dan dikumpulkan oleh tim medis.

Berdasarkan hasil penelitian, plasma pasien COVID-19 yang pulih tersebut mengandung sejumlah besar antibodi pelindung yang dianggap efektif menjaga sistem imun pasien COVID-19.

Dilansir dari China.org, sejauh ini sudah ada total 11 pasien parah dari beberapa rumah sakit di Wuhan telah menerima terapi plasma pemulihan ini dengan semua indikator klinis mereka menjadi lebih baik dan tidak ada reaksi merugikan yang jelas.

Studi klinis pada terapi sel induk, yang dapat menghambat reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh, juga telah dilakukan untuk merawat pasien yang parah.

Lebih lanjut, Akademisi dari Chinese Academy of Sciences (CAS), Zhou Qi, menjelaskan bahwa pasien COVID-19 yang meninggal dunia itu merupakan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh atau yang disebut badai sitokin.

"Kami juga tengah mencari obat-obatan yang dapat mengekang kemunculan badai sitokin ini, termasuk obat antirematik. Beberapa obat yang terbukti efektif pada tingkat seluler telah diterapkan dalam uji klinis," kata Zhou pada konferensi pers.

Sebuah percobaan telah dilakukan pada 14 pasien parah atau sakit kritis yang berusia paling tua 82 tahun di rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas CAS, dan hasilnya tampak menggembirakan.

"Sekarang, percobaan klinis multicenter, acak, kelompok paralel sedang berlangsung. Jika hasil awal menunjukkan obat efektif, kami dapat mempercepat proses dan memberikan pasien yang parah dengan perawatan yang efektif sesegera mungkin," tambah Zhou.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini