nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Penyakit Mental Sindrom Munchausen, Pura-Pura Sakit demi Dapat Perhatian

Senin 17 Februari 2020 22:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 17 481 2169970 mengenal-penyakit-mental-sindrom-munchausen-pura-pura-sakit-demi-dapat-perhatian-IONXMwDdKr.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

GANGGUAN kesehatan mental memang bisa terjadi dan menyerang siapa saja. Memang, kesehatan jiwa bermacam-macam tingkatnya, dari yang ringan hingga yang membuat orang berhalusinasi.

Salah satunya masalah kesehatan mental yang disebut sindrom munchausen. Memang di Indonesia sendiri kasus gangguan kesehatan jiwa jenis ini belum banyak menjadi pembahasan.

Hingga kini belum ada penelitian yang mencatat jumlah ataupun prevalensi penderita sindrom Munchausen. Tapi para ahli dan tenaga medis menyebut kasus ini jarang terjadi. Penderita sindrom ini biasanya orang yang memasuki rentang awal usia dewasa.

Namun begitu, tak menutup kemungkinan pula terjadi pada rentang usia berapapun. Sebab dalam beberapa kasus, anak-anak juga ditemukan menunjukkan gejala sindrom berpura-pura sakit ini.

Ia juga sengaja membuat dirinya sendiri kelaparan dan menenggak laksatif secara berlebihan.

Salah satu kasus terjadi di New York, penderita yang masih berusia belasan tahun berbohong mengalami serangan asma dan dirujuk ke rumah sakit. Ia juga sengaja membuat dirinya sendiri kelaparan dan menenggak laksatif secara berlebihan.

Melansir laman National Health Services (NHS), seperti dilansir KRJogja, sindrom munchausen merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis. Penderita sindrom ini biasanya berpura-pura sakit atau memalsukan gejala penyakit untuk mendapatkan perhatian.

Tujuan utamanya, lebih ke memicu kekhawatiran orang lain agar perhatian tercurah padanya, dibanding sekadar beroleh keuntungan praktis seperti klaim tunjangan kesehatan. Adapun bentuk lain, yang disebut Munchausen Syndrome by Proxy (MSP) yakni di mana penderitanya memanfaatkan relasi kuasa. Misalnya, anak mereka.

Penderita MSP akan mengklaim bahwa anaknya sakit dan mengelabui gejala yang ditimbulkan. Tujuannya sama, mendapatkan perhatian atau simpati dari pihak lain.

Nama Munchausen diambil dari seorang aristokrat Jerman yakni Baron von Munchausen. Ia dikenal menceritakan kisah yang dibuat-buat tentang kebiasaan dan perilakunya sehari-hari.

Mereka dengan kesadaran menciptakan kondisi klinis untuk menarik perhatian orang lain.

Berbeda dengan hipokondria atau gangguan kecemasan terhadap sebuah penyakit, penderita sindrom munchausen menyadari gejala penyakitnya itu sebetulnya bersifat fiktif. Orang yang mengidap sindrom ini tahu betul dan sadar dirinya tak mengidap penyakit apapun. Mereka dengan kesadaran menciptakan kondisi klinis untuk menarik perhatian orang lain.

Penyebabnya boleh jadi kompleks. Dan banyak pasien yang menolak mendapatkan perawatan kejiwaan. Tapi sebagian kasus seperti dikutip dari Metro, menunjukkan penyebab utamanya karena trauma masa kanak-kanak, seperti penelantaran orang tua dan pengabaian.

Ada juga beberapa kasus yang menunjukkan bahwa penderita mempunyai rekam medis dan perawatan kesehatan yang berkepanjangan semasa kanak-kanak. Rekam pengalaman ini bisa membawa sang anak ke sindrom munchausen saat dewasa kelak. Ini karena mereka mengaitkan kenangan masa kecil dengan perasaan-perasaan ketika dirawat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini