nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenkes Soroti Cepatnya Penularan COVID-19 di Kapal Pesiar Diamond Princess

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 21 Februari 2020 16:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 21 481 2172147 kemenkes-soroti-cepatnya-penularan-covid-19-di-kapal-pesiar-diamond-princess-FlKJMO3CtM.jpg Kapal Pesiar Diamond Princess. (Foto: Insider)

WABAH Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) masih menjadi kakhawatiran global. Menyusul kabar kematian dua penumpang kapal pesiar Diamond Princess, menjadi bukti bahwa virus ini benar-benar menyebar dengan cepat.

Sampai saat ini, ada 634 orang dari Kapal Diamond Princess yang dinyatakan positif COVID-19 dari tiga ribuan orang. Terkait dengan jumlah WNI yaitu 78 orang dengan empat di antara mereka dinyatakan positif.

diamond princess

Kasus ini menjadi perhatian penuh Kementerian Kesehatan dan Badan Organisasi Dunia (WHO). Bukan hanya soal pemulangan WNI yang negatif COVID-19, tetapi kapal ini sudah dinyatakan sebagai epicentrum atau lokasi keberadaan virus utama.

"Kapal Diamond Princess dikatakan sebagai epicentrum COVID-19. Ini karena jumlah kasus kejadian yang lebih besar dibandingkan dengan Hubei sendiri, sebagai sumber virus pertama," kata Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Yuri, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kasus COVID-19 di Hubei peningkatannya hanya 5 persen, sedangkan kasus di Diamond Princess itu mencapai 15 persen. Peningkatan yang tinggi ini menjadi kekhawatiran bersama, lalu menjadi alasan kenapa kapal mewah tersebut dikatakan sebagai epicentrum.

Bahkan, Yuri menduga bahwa virus korona baru (2019-nCoV) penyebab COVID-19 telah bermutasi. Hal ini berkaitan dengan kondisi pasien positif COVID-19 yang ada di dalam kapal pesiar Diamond Princess.

"Mereka yang positif ini ternyata banyak menunjukan gejala yang lebih ringan. Jadi, pasien positif COVID-19 tidak begitu parah gejala yang ditunjukannya. Ya, sama kayak common flu," terangnya.

Kondisi ini juga membuat WHO akan melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan virus 2019-nCoV ini. Hal ini dilakukan agar informasi mengenai COVID-19 semakin jelas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini