nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ternyata Tempura Bukan Makanan Asli Jepang Lho!

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 22 Februari 2020 12:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 22 298 2172499 ternyata-tempura-bukan-makanan-asli-jepang-lho-VnPsDrKe2o.jpeg Tempura Dikenal Sebagai Makanan Asli Jepang (Foto: Taste)

BAGI beberapa orang awam tempura adalah makanan ikonik khas Jepang. Namun anggapan tersebut sebenarnya salah. Makanan yang terbuat dari ikan atau makanan laut lainnya yang dilapisi adonan tepung dan digoreng ini ternyata berasal dari Portugal.

Pada zaman dahulu orang Portugis membawa peixinhos da horta yang merupakan kacang hijau yang digoreng dengan cara deep frying menuju Jepang pada abad ke-16. Ternyata hidangan inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya tempura di Negeri Sakura.

Pada 1543 kapal China dengan tiga pelaut Portugis melakukan perjalanan menuju Macau. Kapal terakhir di Pulau Tanegashima, Jepang membuat ketiga pelaut ini menginjakkan kakinya di tanah Jepang. Sejak kedatangan yang tidak disengaja ini, perdagangan Portugal dan Jepang perlahan-lahan dimulai.

Awalnya mereka berfokus pada senjata, namun lama-lama bergeser menjadi barang rumah tangga seperti sabun, wol, tembakau dan pada akhirnya resep masakan. Jepang mengadaptasi resep untuk peixinhos da horta dengan meringankan adonan. Selama berabad-abad mereka mengembangkan pembuatan adonan menjadi bentuk seni.

Mereka mengangkat lapisan fritter yang sederhana menjadi seperti kain kasa yang halus dan hampir transparan. Mereka juga menggunakan bahan makanan mereka sendiri sebagai isian makanan tersebut. Saat ini mereka lebih sering menggunakan udang hingga ikan fugu (blowfish/ikan buntal).

Ada juga yang menggunakan jamur shiitake hingga ubi yang diubah menjadi tempura. Secara tradisional makanan ini disajikan dengan saus celup yang biasanya dibuat dari kaldu dashi, anggur beras dan kecap kedelai.

Sebagaimana dilansir South China Morning Post, Sabtu (22/2/2020), asal usul nama tempura diyakini berasal dari kata lain tempora yang mengacu pada masa berpuasa ketika Gereja Katolik memerintahkan agar para pengikutnya menghindari mengonsumsi daging.

Selama periode-periode ini, orang-orang Katolik Portugis akan mengaduk-ngaduk dan menggoreng sayuran daripada unggas atau ikan. Secara umum peixinhod do horta memiliki arti yakni “ikan kecil di kebun”.

Kepala koki di Restaurante Feitoria yang mendapatkan anugerah Michelin di Lisbon, Joao Rodrigues menganggap hal ini sebagai salah satu tanda globalisasi. “Tradisi adalah kontra indikasi besar, karena apa yang kita sebut tradisi sekarang adalah suatu evolusi. Waktu dan keinginan berubah, orang juga berubah sehingga makanan juga harus berubah,” katanya.

Para pelaut Portugis pada abad ke-15 dan ke-16 sangat berperan dalam memindahkan banyak barang yang bisa dikonsumsi dari seluruh dunia. Misalnya saat mereka memperkenalkan cabai dari Amerika menuju India. Mereka juga membawa bahan-bahan eksotis kembali menuju Portugal terutama yang berasal dari negara bekas jajahan mereka. 

“Semua bekas koloni seperti Macau, Goa, Angola, Cabo, Verde, Brasil dan Mozambik semuanya memiliki pengaruh besar terhadap makanan Portugis. Kacang, paprika, tomat, kentang, cabai, singkong, ubi dan ketumbar adalah makanan yang hampir muncul di setiap hidangan dalam masakan tradisional Portugis,” tutup Rodrigues.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini