Banyak Milenial Takut Menikah, Psikolog Sebut Hal Ini Biang Biang Keladinya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 23 Februari 2020 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 23 196 2172860 banyak-milenial-takut-menikah-psikolog-sebut-hal-ini-biang-biang-keladinya-MxGVnwnz0H.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Orangtua yang tidak harmonis ternyata memberi dampak jangka panjang yang kurang baik pada anak, salah satunya ketakutan menikah. Masalah ini karena trauma yang dialami si anak membuat dia secara tidak langsung berkaca pada apa yang dialami orangtuanya.

Takut menikah juga banyak disebabkan oleh ketidakmauan seseorang untuk berkomitmen. Banyak hal yang membuat sikap ini muncul, salah satunya adalah kekecewaan berlebih dari hubungan sebelumnya. Merasa tidak dihargai juga bisa menjadi pemicu seseorang tidak mau berkomitmen.

Dua masalah ini menjadi sorotan utama Psikolog Meity Arianty saat Okezone menanyakan alasan seseorang takut menikah. Baginya, dua masalah ini membekas dan menjadi hal yang harus diatasi.

Meity menjelaskan, trauma yang dialami seseorang sejatinya bisa diatasi, bisa dengan konseling atau mendapat penanganan psikolog profesional. Dengan mengatasi masalah ini, diharapkan seseorang dapat 'sembuh' dari trauma masa lalunya dan ia tidak memiliki ketakutan akan masa depan, salah satunya pada pernikahan.

"Jika Anda datang ke psikolog, penanganan yang akan diberikan untuk menyembuhkan trauma adalah self healing atau bisa juga dengan forgivenes therapy," katanya, Sabtu (22/2/2020).

Konsultasi

Teknik forgivenes therapy dilakukan bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, jika trauma dibiarkan berlarut-larut, ini bisa menjadi penyebab masalah lainnya dan akan membuat hidup seseorang tidak mencapai kebahagiaan maksimalnya.

"Forgivenes therapy dilakukan jika seseorang belum bisa memaafkan masa lalunya dan itu membuat dia cemas akan masa depan, salah satunya menjadi penyebab ia takut untuk menikah," sambung Meity.

Trauma pada pernikahan orangtua juga sangat berpengaruh pada keputusan seseorang untuk menikah atau tidak. Ketika seseorang melihat kejadian yang buruk terkait dengan hubungan orangtuanya, itu berdampak pada ketakutan di masa depan untuk menjalin hubungan yang serius.

Namun, menyembuhkan masa lalu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Psikolog Mei menerangkan, beberapa kliennya akan mengeluarkan 'mental block'-nya atau membatasi diri terhadap terapi yang tengah ia lakukan.

Mental block adalah penekanan atau pengekangan terhadap memori atau pikiran dalam diri seseorang. Mental block bekerja sebagai penghalang psikologis yang ada di dalam diri seseorang dengan maksud tertentu. Kondisi ini muncul dari kekeliruan pengalaman hidup, pergaulan, sisa traumatik masa lalu, atau luka batin.

"Mental block akan membelenggu pikiran, membentuk tembok atau benteng yang membuat pandangan dan pikiran seseorang terbatas. Ketika dihadapkan pada suatu persoalan, ia selalu menyalahkan keadaan dan merasa terpenjara dengan paham konvensional," papar Mei.

Konsultasi

Ia melanjutkan, bila psikolog coba memberikan jalan keluar, mental block ini akan keluar dan membuat seseorang merasa dirinya adalah yang salah. "Contoh sederhananya, kalimat ini yang biasanya bakal keluar kalau mental block muncul; mungkin saya memang bodoh dan nggak bisa apa-apa," sambungnya.

Psikolog Mei menambahkan, ketika seseorang sudah di titik takut untuk menikah, maka perlu evaluasi yang tepat agar penanganan yang dilakukan efektif. Mengetahui seseorang sudah sembuh dari trauma masa lalu bukan hal yang mudah.

"Sebagai psikolog, kita juga sulit untuk menentukan apakah klien kita ini benar sembuh atau berbohong kepada kita. Namun, kalau aku sendiri biasanya melihat reaksi fisiknya dan ini hanya bisa dilihat psikolog yang menangani," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini