nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengapa Jatuh Cinta Rasanya Tak Tertahankan? Ini Penjelasannya

Selasa 25 Februari 2020 14:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 25 196 2173828 mengapa-jatuh-cinta-rasanya-tak-tertahankan-ini-penjelasannya-jbJMwcNlWb.jpg Jatuh cinta rasanya tak tertahankan (Foto: Her World)

Saat kita jatuh cinta, kita berasa mabuk kepayang. Rasanya setiap hari hanya mengingat senyum manisnya, atau tatapan matanya yang tajam.

Begitulah jatuh cinta, terkadang sangat menyenangkan. Namun juga kadang jadi sangat menyedihkan karena harus terpisah dengan yang dicintai.

Perasaan jatuh cinta muncul karena 'ramuan' bahan kimia di otak dan faktor psikologi yang rumit. Jadi, apakah perasaan cinta itu bisa luntur?

 jatuh cinta

Esensi jatuh cinta, setidaknya cinta romantis yang penuh gairah, terungkap dalam bagaimana kita biasa mengucapkannya.

Kata yang digunakan adalah "jatuh" dan sering kali pada "pandangan pertama" alih-alih berdasarkan pengamatan yang cermat.

Kita jatuh cinta secara gila dan buta pada sifat buruk orang lain. Kita jatuh cinta bukan berdasarkan penilaian rasional atas sifat-sifat mereka.

Jatuh cinta rasanya luar biasa, tak tertahankan, menggebu-gebu, penuh gairah, dan kerinduan, yah balistik!

Rasa jatuh cinta itu begitu kuat mengendalikan kita, pikiran kita. Lebih dari kemampuan kita bisa mengendalikannya.

Di satu sisi, rasa jatuh cinta dianggap layaknya misteri. Bayangkan saja panah Dewa Asmara atau ramuan 'guna-guna'.

Namun, cinta memang tidak mudah ditaklukkan oleh sains. Lalu apa alasannya?

Feromon seks, bahan kimia yang dirancang untuk menunjukkan sinyal ketertarikan kepada orang lain, sering disebut sebagai instrumen utama daya tarik.

Itu adalah ide yang menarik. Tetapi sementara feromon memainkan peran penting dalam komunikasi serangga, ada sangat sedikit bukti bahwa hormon itu ada pada manusia.

Tetapi jika suatu bahan kimia dapat memberi sinyal ketertarikan pada orang lain, hormon apa yang berperan dalam tubuh seseorang?

Neuropeptide oksitosin, sering digambarkan secara tidak akurat sebagai hormon pengikat dan dikenal karena perannya dalam laktasi dan kontraksi uterus, adalah hormon yang dianggap berperan dalam hal ini.

Hormon ini telah dipelajari secara luas, terutama pada binatang vole prairie yang monogami dan oleh sejumlah orang dijadikan model hewan yang ideal.

Memblokir oksitosin mengganggu ikatan pada pasangan dan membuat tikus lebih terkendali dalam ekspresi emosional mereka.

Sebaliknya, menginduksi kelebihan oksitosin pada spesies vole non-monogami lainnya mengurangi selera mereka untuk melakukan petualangan seksual.

Seperti dilansir BBC, pada manusia oksitosin efeknya kurang dramatis. Hanya ada perubahan halus dalam preferensi untuk setia pada pasangan yang ada, daripada mencari pasangan yang baru.

Jadi oksitosin belum terbukti berperan dalam perasaan cinta.

Jadi di mana "kotak surat cinta" di otak?

Dan bagaimana kita tahu orang yang tepat untuk kita, mengingat tidak ada satu molekul pun di otak yang dapat menafsirkannya?

Ketika cinta diperiksa dengan pencitraan otak, area-area yang "menyala" tumpang tindih dengan bagian-bagian yang mendukung perilaku untuk mencari hadiah dan berorientasi pada tujuan.

Tapi tidak ada informasi cukup yang bisa menjelaskan apa bagian otak itu menyala karena hal-hal lain.

Dan pola cinta romantis yang diamati tidak jauh berbeda dengan ikatan keibuan, atau bahkan dari kecintaan pada sebuah tim sepak bola.

Jadi, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa ilmu saraf belum dapat menjelaskan emosi saat seseorang jatuh cinta.

Apakah kita hanya perlu lebih banyak eksperimen? Ya, biasanya seperti itulah jawaban ilmuwan, tetapi ini mengasumsikan cinta cukup sederhana untuk ditangkap oleh deskripsi mekanistik.

Walaupun ini menjelaskan mengapa ketertarikan romantis sangat kompleks, hal itu tidak menjelaskan mengapa jatuh cinta bisa terasa begitu spontan? Bukankah rasionalitas lebih baik? Rasionalitas berkembang lebih lambat dari naluri kita.

Kita membutuhkan rasionalitas hanya untuk mengambil keputusan dan membuat orang lain mengerti keputusan kita.

Namun, kita tidak perlu untuk membuat orang lain mengerti mengapa kita mencintai seseorang. Anggapan bahwa insting adalah sesuatu yang sederhana dan lebih rendah dari rasionalitas juga tidak tepat.

Insting yang tidak perlu diucapkan membuatnya berpotensi lebih canggih daripada analisis rasional, karena insting membawa kita ke dalam sesuatu yang lebih luas dari apa yang kita pikirkan.

Coba pikirkan. Bukankah kita jauh lebih baik dalam mengenali wajah dibandingkan dengan mendeskripsikannya? Mengapa perasaan cinta harus berbeda?

Pada akhirnya, jika mekanisme syaraf cinta itu sederhana, Anda harus bisa mempengaruhinya dengan suntikan, memadamkannya dengan pisau bedah, sambil membiarkan yang lainnya tetap utuh.

Logika biologi evolusi yang dingin membuat ini tidak mungkin. Jika perasaan cinta tidak rumit, kita tidak akan pernah berevolusi sejak awal.

Jadi cinta, seperti semua pikiran, emosi dan perilaku kita, semua bertumpu pada proses fisik di otak, interaksi yang sangat kompleks.

Tetapi mengatakan bahwa cinta adalah "hanya" proses kimia di otak sama saja seperti mengatakan Romeo dan Juliet 'hanyalah kumpulan kata-kata'. Hal itu tidak tepat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini