nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Suami Lebih Muda Tak Jadi Masalah, Ini Penjelasannya

Selasa 25 Februari 2020 19:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 25 196 2174036 suami-lebih-muda-tak-jadi-masalah-ini-penjelasannya-tthskizXqN.jpg Suami lebih muda (Foto: Pop Sugar)

Di dalam budaya masyarakat sering diharapkan seorang suami usianya lebih tua daripada istrinya. Sebab diharapkan suami bisa bersikap jauh lebih dewasa dan mengayomi istrinya sebagai kepala rumah tangga.

Namun sejatinya suami yang lebih tua juga tak selalu merupakan yang terbaik. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga bisa dilakukan oleh suami yang lebih tua kepada istrinya.

Jadi sesungguhnya tak masalah jika suami lebih muda asalkan memiliki akhlak yang baik dan mampu bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya. Usia seorang istri yang lebih tua seharusnya tak perlu jadi pemasalahan.

 suami lebih muda

Lusiana dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam penelitian berjudul Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Beda Usia (Studi Fenomenologis Usia Kronologis Istri Lebih Tua) pada 2017 menyatakan, kepuasan pernikahan berhubungan erat dengan keharmonisan pernikahan.

Menurut Saxton (dalam Larasati, 2012) kepuasan pernikahan merupakan hasil dari terpenuhinya tiga aspek kebutuhan dasar pernikahan. Tiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan materi, kebutuhan seksual, dan kebutuhan psikologis.

Lusiana menyebut permasalahan yang dihadapi pasangan beda usia yaitu perempuan lebih tua umumnya adalah stigma dari masyarakat, masalah komunikasi, dan keadaan ekonomi.

”Biasanya masyarakat memandang bahwa pernikahan dengan usia kronologis istri lebih tua merupakan hal tidak biasa karena jarang terjadi di masyarakat. Di sinilah dukungan pasangan diperlukan. Adanya dukungan emosional dari pasangan dapat menimbulkan kepuasan pernikahan, terutama pada pasangan beda usia di mana usia istri lebih tua,” terang Lusiana.

Pada pasangan beda usia, keadaan ekonomi merupakan masalah yang sering terjadi. Dalam penelitian itu juga menunjukkan keadaan ekonomi merupakan salah satu jenis konflik yang sering muncul dan mampu mempengaruhi kepuasan pernikahan.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah keintiman. Ini adalah salah satu emosi dasar dari cinta. Keintiman bisa mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual.

Dalam penelitian itu, Lusiana menyimpulkan secara umum pasangan beda usia yaitu istri lebih tua, mereka merasakan kepuasan dalam pernikahan yang dijalani.

Kepuasan pernikahan pada pasangan beda usia yaitu istri lebih tua muncul ketika pasangan menghadapi setiap konflik rumah tangga yang terjadi, didukung dengan adanya faktor internal.

”Beberapa di antaranya kerja sama dan pembagian peran yang fleksibel, keintiman suami istri, serta penerimaan karakter pribadi pasangan. Sedangkan faktor eksternal meliputi manajemen keuangan, kehadiran anak dalam rumah, serta dukungan dari pasangan,” ujar Lusiana.

Faktor eksternal khususnya stigma masyarakat bagi pasangan yang usia istri lebih tua ini punya pengaruh terhadap relasi dan cara komunikasi pasangan beda usia.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Wifka Rahma Syauki dalam penelitian berjudul Dialektika Hubungan Pasangan Perkawinan Beda Usia (Studi pada Perkawinan dengan Usia Suami yang Lebih Muda) menyebutkan ketegangan pasangan utamanya disebabkan adanya konstruksi masyarakat akan perkawinan yang ideal dan kuatnya budaya patriaki.

Seperti dilansir dari Solopos.com, Wifka mengatakan, pasangan beda usia yaitu suami lebih muda ada kalanya merasa cemas dengan konstruksi masyarakat yaitu laki-laki yang lebih muda dinilai kurang bijaksana dan perempuan lebih tua akan lebih mendominasi.

”Ini sempat membuat perempuan kurang terbuka dalam mengungkapkan hubungan. Mereka cenderung bercerita pada keluarga dan orang-orang terdekat saja.”

Wifka menuliskan dalam penelitian itu diketahui dalam pasangan yang istri lebih tua dari suami, maka dalam membicarakan permasalahan rumah tangga, perempuan terlihat ikut aktif, tidak serta merta ikut kata suami tapi akhir keputusan tetap dari suami.

Istri akan menjelaskan masalah dengan narasi-narasi atau analogi-analogi dengan tujuan untuk lebih menghaluskan atau tidak menjadikan tema sensitif bagi suami. ”Misalnya masalah kehamilan dan masalah finansial,” sebut dia.

Suami yang lebih muda juuga tidak memengaruhi peran suami sebagai kepala rumah tangga untuk mengambil alih kontrol komunikasi. Pola komunikasi yang terjadi cenderung memiliki pola monopoli dengan suami yang lebih dominan.

Septia Yunusiah dan Lintang Ratri Rahmiaji dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro dalam penelitian berjudul Pola Komunikasi pada Hubungan Pernikahan dengan Pria yang Berusia Lebih Muda dalam Budaya Patriarki menjelaskan, meskipun ada kecenderungan dominasi, namun untuk panggilan keseharian, cenderung setara.

"Panggilan tidak menunjukan perbedaan usia atau penghormatan tertentu. Panggilan hanya seperti ’abi-mamah’, ’bapak-mamah’, serta sebutan nama,” tulis Septia dan Lintang.

Mereka menyimpulkan perbedaan usia pria yang lebih muda tidak mempengaruhi tahapan untuk membangun hubungan. Pasangan pernikahan dengan istri lebih tua cenderung tetap melalui tahap-tahap membangun hubungan dengan inisiatif dan dominasi yang berada pada pihak laki-laki.

”Usia laki-laki yang lebih muda cenderung memiliki kualitas hubungan yang sama dengan pasangan biasa lainnya. Perbedaan usia istri lebih tua juga cenderung tidak mempengaruhi menurunnya kualitas hubungan,” tulis mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini