nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Dokter Belum Siap Terapkan Electronic Medical Record

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 25 Februari 2020 19:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 25 481 2174021 banyak-dokter-belum-siap-terapkan-electronic-medical-record-ZYfCaU3VLB.jpg Ilustrasi. (Suncoastdaily)

DI era digitalisasi, sudah seharusnya rumah sakit mengubah sistem pelayanan menggunakan sistem online. Sayangnya, belum semua rumah sakit melakukannya dengan berbagai faktor.

Seiring dengan kemajuan revolusi 4.0, semua masyarakar hampir bekerja dengan gawai dan internet of think. Oleh karena itu, rumah sakit juga harus meningkatkan pelayanannya menggunakan basis digital, misalnya memilih pendaftaran online

dokter

Kepala Bidang Teknologi Informasi KARS dr Djoni Darmadjaja, SpB, MARS, FinaCS, FICS, mengatakan, jika dibandingkan dengan negara lain, sistem pelayanan online sudah berjalan baik. Walaupun banyak pasien, rumah sakit selalu terlihat sepi tanpa antrean.

"Kalau kita lihat rumah sakit di negeri orang, walaupun pasien 2000 sehari, tapi enggak ramai. Kalau kita lihat di RSCM misalnya, (pasien) berjubel kemudian banyak waktu terbuang," bebernya dalam acara Digitalisasi Layanan Rumah Sakit Guna Menunjang Proses Akreditasi bersama SehatQ di kawasan Jakarta Pusat, Senin 24 Februari 2019.

Maka itu, sambung Dokter Djoni, KARS mengharuskan setiap rumah sakit punya sistem pendaftaran online. Sistem pelayanan seperti ini tentu memudahkan pasien saat datang ke fasilitas kesehatan (faskes). 

Selain itu, dalam rangka peningkatan ilmu bagi pelaksana, baik dokter maupun perawat, bekerjanya juga harus terhubung dengan internet. Hal tersebut dilakukan supaya memudahkan dalam mencari data dan mengembangkan keilmuan terkini.

Dari KARS, kata Dokter Djoni, setiap rumah sakit juga dianjurkan memakai electronic medical record. Karena sistem ini diklaim irit biaya, irit tempat, juga memudahkan petugas kesehatan saat rekam medis semisal saat pasien dirujuk ke rumah sakit lain. 

"Tapi electronic medical record ini sering telat. Dokter enggak terbiasa dari kebiasan lama ke yang baru," tuturnya.

Belum lagi banyak yang menganggap bahwa penggunaan electronic medical record ini biaya pengadaannya mahal. Padahal fakta di lapangan tidak menunjukkan hal itu. 

Akibatnya, Dokter Djoni mengatakan, seluruh rumah sakit yang memenuhi digitalisasi jumlahnya sedikit. Maka setiap rumah sakit diimbau untuk mengubah sistem pelayanan dengan digitalisasi mengikuti zaman. 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini