Salah Jurusan Hantarkan Kurniawan Gunadi, Founder Studio Langit-langit Creative Jadi Penulis Inspiratif

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 26 Februari 2020 15:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 26 12 2174465 salah-jurusan-hantarkan-kurniawan-gunadi-founder-studio-langit-langit-creative-jadi-penulis-inspiratif-3pcyvphryX.jpg foto: Okezone

BANYAK kaum anak muda atau millennials saat kita sekarang-sekarang ini galau, ia galau karena merasa salah mengambil jurusan perkuliahan atau bertolak belakang dengan passion yang kita miliki. Tak usah merasa putus asa kita dapat belajar atau mengambil contoh dari salah satu penulis keren yaitu Kurniawan Gunadi atau atau akrab dipanggil Mas Gun merupakan seorang blogger, penulis, sekaligus founder Langit Creative.

Menjalani karir dan mengejar mimpi yang berbeda dengan background pendidikan yang di gelutinya, tidak membuat Mas Gun menyesal telah menuntut ilmu di Fakultas Seni Rupa dan Design ITB. Sempat mengalami kegalauan dan merasa salah ambil jurusan, ternyata, FSRD lah yang mengantarkan Mas Gun hingga ke titik ini.

"Setelah saya udah keluar dari FSRD, udah lulus dari kampus, saya justru bersyukur banget masuk Fakultas Seni Rupa, karena dari SR lah saya jadi buku yang pertama ini (Hujam Matahari)" ujar laki-laki berkacamata itu.

Kini Mas Gun telah memantapkan diri untuk terus berkecimpung di dunia kepenulisan, telah menulis beberapa buku yang inspiratif dan diproduksi secara pribadi di bawah bendera Studio langit-langit Creative. Banyak cerita inspiratif dari perjalanan karir Mas Gun, termasuk pemilihan organisasi dan bagaimana menemukan jodohnya.

Langit-langit Creative menampung kreativitas Mas Gun dan penulis indie lainnya dalam berkarya. Hingga saat ini, Mas Gun telah merilis 5 judul buku dan mendapat berbagai ulasan positif di Goodreads. Meski sangat berbakat dalam dunia literasi, ternyata Mas Gun merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Program Studi Desain Produk.

Masgun sudah hobi menulis sejak tahun 2010, ia menuangkan karya tulisannya di sebuah blogger miliknya, karena pembacanya lumayan banyak, pada awal tahun 2014, Masgun memutuskan untuk serius bergelut di bidang penulisan dan mengemasnya menjadi sebuah buku.

Mas Gun sempat terjun menggeluti dibidang sesuai jurusannya yaitu bidang design grafis. “Saya mencari jawaban apakah jurusan kuliah ku, adalah jalan ku, akhirnya saya menemukan bahwa profesi designer bukan jalan ku” ujar laki-laki jurusan FSRD ITB itu.

Mas Gun merasa bahwa apresiasi dari hasil karya design grafis dengan hasil karya menulis sangat jauh berbeda. “Ketika apresiasi dari hasil karya menulis lebih terasa hingga saat ini, entah itu dari orang-orang yang dikenal atau kita tidak kenal, dari apresiasi itulah aku memutuskan fokus bergelut menjadi seorang penulis” ucap pria berkacamata tersebut.

Menurut Mas Gun, pekerjaan itu sejatinya tidak diukur pada seberapa besar angka

yang dihasilkan, tapi pada manfaat, nilai, dan keberkahan apa yang bisa didapat

dan timbul dari pekerjaan itu.

“Andai semua orang mengejar gaji ratusan juta per bulan, kita mungkin akan

kehilangan guru-guru di sekolah, kehilangan pengajar di pelosok daerah,

kehilangan tenaga medis yang bekerja untuk kesehatan orang lain, kehilangan

orang-orang yang mewakafkan dirinya pada jalan dakwah’’ ujarnya.

Di bloggernya, Mas Gun menyebut dirinya sebagai seorang bergolongan darah B yang lebih suka sayuran daripada daging. Pengagum Rasulullah dan Hamka. Dia menjalani kesehariannya di Yogyakarta sebagai wirausahawan dan sibuk menulis naskah.

Ada beberapa karya bukunya sudah dapat dinikmati masyarakat seperti; Arah Musim, Hujan Matahari, Lautan Langit, dan Menentukan Arah yang ia tulis bersama istrinya.

Resah, galau, semangat, haru, semua perasaan dapat ditemukan dalam sebentuk paket perasaan komplit, di buku berjudul Arah Musim. Kisah tentang pencarian jati diri, pencarian cinta sejati, rasa sepi dalam keluarga yang tidak utuh, juga ketika hidup kembali memberikan harapan.

Arah Musim adalah salah satu buku karya Mas Gun yang dituangkan tepat bagi para pejuang Quarter Life Crisis. Filosofi pergantian musim yang sudah tidak bisa ditebak seperti cerita kehidupan yang arahnya tidak tentu menjadi alasan di balik pemilihan judul Arah Musim.

Ternyata walau sudah menerbitkan banyak karya, Bentang Pustaka menjadi penerbit pertama yang menjadi pelabuhan bagi karya Mas Gun. Pertemuan Bentang Pustaka dengan Mas Gun pun terasa seperti berjodoh. Sejak dulu, terutama tahun 2016, banyak penerbit terkenal yang berniat meminang karya Mas Gun, namun ia menolak karena merasa belum saatnya.

Tahun 2019, Mas Gun mulai berpikir kembali untuk melabuhkan karyanya di penerbit besar. Gayung bersambut, tidak lama kemudian sebuah perusahaan penerbit besar menawrkan perjanjian kerja sama. Mas Gun pun tidak berpikir lama untuk mengiyakan. Apalagi, dari dulu ia sudah berminat untuk menerbitkan karyanya di perusahaan penerbitan tersebut. Minatnya ini tumbuh karena banyak penulis besar favoritnya yang karyanya lahir di penerbitan ini, seperti Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan lain-lain.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini