Perjuangan Maulidar Yusuf Hantarkan Anak Pemulung dalam Prose #KejarMimpi

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 26 Februari 2020 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 26 12 2174484 perjuangan-maulidar-yusuf-hantarkan-anak-pemulung-dalam-prose-kejarmimpi-ebWT9B5nI4.jpg foto: Okezone

SEKUMPULAN anak berkumpul dengan wajah ceria dan semangat belajar membara memperhatian sosok perempuan yang berdiri di hadapan mereka sambil menulis di sebuah papan tulis hijau dan beralas terpal plastik. Dengan sabar dan ramah sosok perempuan itu mengajarka murid-muridnya, meski tempatnya hanya seadanya, tak menyurutkan semangat anak-anak itu untuk belajar bersama

Pendidikan adalah hak segala bangsa, merupakan pedoman yang dipegang teguh sosok perempuan bernama Maulidar Yusuf. Maulidar yusuf sosok pemerhati sosial sekaligus pelapor berdirinya taman edukasi sebagai sarana belajar non-formal untuk anak-anak pemulung di tanah pinjaman yang tak jauh dari lokasi Pembuangan Akhir Kampung Jawa, Banda Aceh. Pendidikan non formal ini dikhususkan bagi anak-anak yang orang tuanya berprofesi sebagai pemulung.

Dikisahkan ibu satu anak ini, ia jatuh hati dengan anak-anak ini ketika ia dan teman-temannya mengadakan tugas pengabdian social saat di bangku sekolah. Ia melihat semangat anak-anak pemulung yang luar biasa, dan sejak itu memutuskan untuk mengajarkan anak-anak pemulung.

Aslinya Kampung Jawa adalah tempat nan-elok, suguhan senjanya bahkan membuat siapa pun takjub, tapi sayang pintu gerbang Aceh laut itu menjadi daerah kumuh, dimana kemiskinan tumbur subur di kawasan tersebut.

Kampung Jawa yang dulu dikenal sebagai bagian dari Kuta Raja kini lebih dikenal sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampai kota Banda Aceh. Sekitar 180 ton sampah setiap harinya masuk ke TPA itu.

“Saya melihat kota Kampung Jawa, Aceh lebih membutuhkan teman-teman relawan dibanding kota-kota lain, artinya kota-kota lain bisa membayar private, les tambahan, sedangkan melihat kondisi anak anak di kampong Jawa Aceh untuk makan saja mereka susah, jadi untuk meraih ilmu kita berikan sarana gratis” jelas alumni Bahasa Inggris UIN Ar-raniry ini

Tak ingin semangat belajar untuk meraih cita-cita anak pemulung terkubur bersama gundukan sampah, Maulidar, warga Lampulo Banda Aceh bersama sejumlah rekannya rela mengabdikan diri tanpa pamrih untuk mendirikan Taman Edukasi Anak Pemulung.

“Saya prihatin dengan kehidupan anak pejuang lingkungan. Maksudnya pemulung itu bagi saya adalah pejuang lingkungan, tapi hidup mereka sangat memprihatinkan, tidak ada yang memperjuangkan mereka. Makanya saya termotivasi untuk memberikan pendidikan kepada anak pemulung,” kata Maulidar

Anak-anak Kampung Jawa, Aceh tak banyak yang mengenyam bangku sekolah, mereka lebih banyak bekerja membantu orangtua. Namun sejak 8 tahun lalu dimulai, kini anak-anak pemulung ada kegiatan belajar yang diprakarsai oleh Maulidar. Taman Edokasi Anak Pemulung berdiri sejak 2012, setiap tahunnya minat anak-anak pemulung yang ikut bergabung untuk belajar terus meningkat. Setidaknya saat ini ada 80 anak mulai dari usia dua tahun hingga SMA yang diajari oleh 100 orang lebih relawan dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. “Saya ingin memastikan anak anak ini tetap dalam pendidikan,” tegas Maulidar.

Taman Edukasi Anak Pemulung pertama kali dibangun saat Maulidar masih duduk dibangku kuliah, dia bangun bersama rekannya bernama Aiyub Bustamam yang kini telah menjadi suaminya. Komitmen yang selalau Maulidar wujudkan bersama anak-anak pemulung itu setidaknya mengajak mereka berkumpul untuk bergembira bersama. Disela-sela mengajar, Maulidar selalu menyempatkan bermain, bernyanyi sambil belajar bersama anak-anak.

Maulidar mengajar dari Rabu hingga Minggu sejak usai salat Asar hingga menjelang Magrib. Sejumlah pelajaran yang diajarkannya mulai dari matematika seni hingga Ilmu Pengatahuan Alam (IPA).

Karena dari awal terbentuk “Taman Edukasi Anak Pemulung” fokus pendidikan, hingga kini mereka tidak pernah mengajukan permohonan bantuan ke manapun. Namun jika ada pihak yang ingin membantu untuk anak asuhnya itu bisa datang dan langsung menyalurkan kepada mereka.

Maulidar menyebut banyak relawan yang hadir, komunitas juga hadir, misalnya organisasi mahasiswa mereka datang mengajar. Ada juga kelompok-kelompok yang datang kadang-kadang mereka membagi mukena, alat tulis, buku tulis dan sebagainya.

“Selama 8 tahun ini telah begitu banyak pihak yang terlibat dalam mendukung segala proses pembelajaran di Taman Edukasi Anak Pemulung Gampong Jawa, semoga Allah membalas kebaikan teman-teman/ bapak/ibu/ dan seluruh para relawan, semoga Allah memudahkan langkah kita semua dalam upaya mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT” ujar wanita berkacamata itu.

Komitmen yang selalau Maulidar wujudkan bersama anak-anak pemulung itu setidaknya mengajak mereka berkumpul untuk bergembira bersama. Bukan hal yang mudah bagi Maulidar berjalan sampai 8 tahun , apalagi kesibukan Maulidar sebagai abdi negara sekaligus ibu dan istri dari sebuah keluarga, inilah garda terdepan aksi sosial Maulidar bersama sekumpulan anak muda dan relawan membangun Taman Edukasi Anak Pemulung.

Selain mengajar, Maulidar bersama relawan ikuti aktivitas mereka dan keadaan keluarga dari anak-anak pemulung. Sehabis belajar Maulidar bersama relawan membantu anak-anak mengelola sampah-sampah plastik yang bisa di daur ulang.“Botol bekas yang kita minum setiap hari lalu kita buang begitu saja, bagi mereka itu sumber kebahagiaan mereka” ujarnya.

Karena kegigihannya memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak pemulung melalui Taman Edukasi Anak Pemulung ini memebuatnyanya didapuk menjadi salah satu Local Heroes #KejarMimpi.

 (cm)

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini