Musim Hujan, Balita Sering Alami 3 Penyakit Saluran Cerna

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 28 Februari 2020 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 28 481 2175556 musim-hujan-balita-sering-alami-3-penyakit-saluran-cerna-pOPwD4HxyM.jpg Ilustrasi. (Econutsoap)

TAK bisa dipungkiri, masalah saluran cerna menjadi salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh manusia. Terutama bagi anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lemah dan gampang terserang penyakit.

Anak-anak sangat rentan mengalami penyakit saluran cerna kalau pola makannya tidak baik. Terlebih saat musim hujan, balita dan anak usia sekolah rentan mengalami gangguan pencernaan.

Hal itu itu dikatakan oleh Spesialis Gastroenterologi Anak, dr Frieda Handayani Kawanto, SpA(K). Dia mengatakan, ada banyak macam masalah pencernaan yang kerap dialami oleh anak usia balita atau usia sekolah.

Bunda harus mencegahnya dengan beragam cara, karena musim hujan membuat sistem imunitas menurun. Dokter Frieda pun membeberkan tiga penyakit saluran cerna yang paling sering dialami anak-anak selama musim hujan. Jangan diabaikan, Bunda!

Diare

diare

Seseorang yang diare, ditandai dengan frekuensi Buang Air Besar (BAB) yang bertambah dari biasanya, yakni lebih dari 3 kali sehari. Dengan konsistensi berupa tinja cair. Diare ini disebabkan oleh rotavirus dalam makanan, yang mana kebersihannya kurang terjaga dengan baik.

Selain karena kebersihan, beberapa penyebab lain terjadinya diare, seperti alergi, gangguan kekebalan tubuh, keracunan makanan, malabsorpsi (gangguan penyerapan nutrisi dari usus kecil) dan infeksi.

Konstipasi

Berbanding terbalik dengan diare, orang yang mengalani konstipasi ditandai dengan BAB kurang dari dua kali seminggu. Diikuti dengan mengedan dan kesakitan. Tekstur tinja keras dan bentuknya bulat seperti kotoran kambing.

Konstipasi bisa disebabkan oleh perubahan pola makan dalam kehidupan. Makanan mengandung pengawet, dan lainnya bisa menyebabkan seorang terjangkit penyakit ini. Dalam kasus yang lebih parah clean out treatment atau evakuasi tinja, yang dilakukan di rumah sakit sangat diperlukan.

Intoleransi laktosa

sembelit

Orangtua harus mampu menyeimbangkan produk laktosa dalam tubuh anaknya. Enzim laktasi di orang Asia lebih sedikit dibanding orang Eropa, karena pada umumnya mereka mengonsumsi buah-buahan. Intoleransi laktosa bisa terjadi kalau manusia terlalu banyak mengonsumsi produk susu.

Anak seharusnya memiliki food diary, yang berisi makanan apa yang dimakan anak, serta berapa banyak yang dikonsumsi. Semuanya perlu dicatat, karena setiap anak dan yang lainnya memiliki toleransi laktosa yang berbeda-beda.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini