Alasan Ilmiah Orang Indonesia Gampang Sebar Berita Hoax Virus Korona

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 02 Maret 2020 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 01 481 2176379 alasan-ilmiah-orang-indonesia-gampang-sebar-berita-hoax-virus-korona-CjdjlrmlsF.jpg Ilustrasi. (Shutterstock)

PENYEBARAN hoax atau berita bohong kian masif dan cepat. Bahkan, di saat dunia tengah mengalami isu Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), masih banyak hoax virus korona muncul di media sosial.

Di Indonesia, setidaknya terdapat 115 hoax virus korona, yang telah dikonfirmasi Kominfo hingga Februari 2020. Mulai dari informasi khasiat bawang putih yang diklaim dapat mengobati virus korona, hingga informasi tentang skema penularan melalui udara dan benda mati.

Saking banyaknya informasi hoax virus korona yang berseliweran di media sosial, menimbulkan problematika tersendiri di tengah masyarakat. Fenomena ini membuat banyak orang bertanya-tanya, apa alasan yang membuat begitu banyak orang mempercayai berita bohong atau hoax?

hoax korona

Ketua Umum DPP Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) dr Mahesa Paranadipa M, MH, mengungkapkan, orang Indonesia memang cenderung mudah sekali percaya hoax virus korona. Karena pada dasarnya otak manusia itu gampang dipengaruhi oleh kecerdasan berpikirnya sendiri.

"Dalam kondisi seperti ini, kalau mau cari informasi harus memilih dokter atau orang yang kompeten di bidangnya," ucap Dokter Mahesa, ditemui Okezone, beberapa waktu lalu.

Hal ini juga telah dibuktikan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat, Daniel Kahneman. Melalui bukunya yang berjudul Thinking Fast and Slow (2011), disebutkan bahwa ada bagian pada otak manusia yang cenderung berpikir cepat dan tidak logis. Hal inilah yang membuat seseorang memiliki kemungkinan untuk dimanipulasi.

Namun di satu sisi, di buku itu disebutkan pula manusia sebetulnya memiliki lapisan otak yang membuatnya berpikir lambat, skeptis, tapi bagian ini cenderung cepat lelah. Sehingga seringkali tidak dimaksimalkan.

Agar tidak mudah dimanipulasi, kata Mahesa, seseorang harus melatih diri sejak dini, untuk memilah dan menilai kebenaran informasi yang diterimanya. Anda pun harus membiasakan diri mencari sumber yang valid.

"Melawan hoax itu harus dilatih. Kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk membantu orang-orang di sekitar kita, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan literasi yang baik," katanya.

Mahesa menambahkan, terkait kasus COVID-19, dia juga meminta kepada petugas medis maupun individu untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang sifatnya personal. Karenanya, pernyataan-pernyataan seperti inilah yang dapat memicu penyebaran hoax di tengah masyarakat.

"Jangan menelah mentah-mentah pernyataan yang bersifat personal. Contohnya sudah ada, kasus kolam renang itu kan statement personal, tidak mewakili institusi," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini