Penyebaran Semakin Cepat, Kemenkes Duga Gejala Korona COVID-19 Makin Tak Terlihat

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 04 Maret 2020 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 04 481 2177904 penyebaran-semakin-cepat-kemenkes-duga-gejala-korona-covid-19-makin-tak-terlihat-vEnShGwUJm.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

WABAH Korona COVID-19 secara global sudah menginfeksi 92.238 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat 48.002 orang dinyatakan sembuh, sementara itu 3.135 meninggal dunia.

Angka kesembuhan yang terus meningkat ini menjadi angin segar untuk dunia. Penyakit COVID-19 bisa ditangani dengan baik dan itu kenapa Badan Kesehatan Dunia dan pemerintah setiap negara berharap tidak perlu panik menyikapi wabah ini.

Di Indonesia sendiri, ada dua pasien positif COVID-19 yang kini ddiisolasi di RSPI Sulianti Saroso. Kondisi kesehatan mereka pun dikabarkan terus membaik. Meski begitu, dua orang itu tetap harus diisolasi sampai hasil tes 'confirm' keluar.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto menjelaskan, bagaimana virus penyebab COVID-19 bisa menyebar secepat itu.

Jepang menjadi negara yang sangat tinggi kasus kejadiannya sekarang.

Yuri menerangkan, penyebaran virus yang awalnya dari Hubei, Wuhan, China, akan terus meluas ke beberapa negara. Bahkan, Korea Selatan, Iran, Italia, dan Jepang menjadi negara yang sangat tinggi kasus kejadiannya sekarang.

"Kondisi ini sangat mungkin terjadi, karena gambaran klinis infeksi COVID-19 berubah, yang semula dianggap berbahaya, kini bisa dikatakan lebih ringan," katanya di Kantor Kemenkes, Selasa (3/3/2020).

Menurutnya, gejala COVID-19 ini sendiri semakin tidak terlihat atau minim gejala. Bahkan, pada beberapa kasus tanpa gejala tapi pasien tersebut positif COVID-19.

Nah, ini juga yang diduga Yuri menjadi alasan kenapa COVID-19 menyebar luas ke mana-mana. Sebab, orang yang positif dengan gejala sangat minim bahkan tidak terlihat akan bebas dari 'thermal sceaner'.

"Penyebarannya jadi cepat karena orang yang positif COVID-19 tidak tampak gejalanya dan thermal scanner tidak mampu mendeteksi suhunya, karena alat ini di-setting hanya pada suhu 37,5 derajat celsius," sambungnya.

Kondisi ini juga yang terjadi di Indonesia. Dua pasien positif COVID-19 tertular WN Jepang yang berkunjung ke Indonesia pada 14 Februari 2020. "Riwayat kesehatan WN Jepang ini ternyata dia tidak sakit, dia tidak panas. Dia tidak menunjukan gejala COVID-19," terang Yuri.

Karena itu, ia menyarankan agar masyarakat semakin aware dengan kesehatan dan kebersihan tubuhnya. Jangan pernah malas untuk cuci tangan, menggunakan masker jika Anda sedang sakit, dan menjalankan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) untuk mencegah penularan COVID-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini