Pakar Epidemiologi Harvard Perkirakan COVID-19 Makin Mirip dengan Influenza

Rabu 04 Maret 2020 17:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 04 481 2178178 pakar-epidemiologi-harvard-perkirakan-covid-19-makin-mirip-dengan-influenza-XKuKGBuELf.jpg Virus penyebab COVID-19 (Foto: ABC)

Virus korona Wuhan yang mewabah di China, akhirnya menyebar ke berbagai penjuru dunia, ke Jepang, Korea, Indonesia, Italia, bahkan Amerika. Namun COVID-19 yang menyebar ini secara perlahan menunjukkan penyakit dengan gejala yang relatif ringan.

Kecenderungan ini serupa dengan gejala wabah virus H1N1 atau flu babi dan influenza. Profesor epidemiologi dari Universitas Harvard di Amerika Serikat (AS) Marc Lipsitch mengatakan, tingkat kematian COVID-19 mirip dengan influenza.

 melawan COVID-19

Lipsitch memperkirakan dalam masa setahun ke depan, 40% hingga 70% dari populasi dunia dapat terinfeksi virus korona. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti setiap orang yang terinfeksi akan memiliki gejala yang parah.

Sebagian besar pasien, terang dia, mungkin memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.

Apabila populasi dunia saat ini adalah 7,52 miliar jiwa, maka 70% dari itu adalah 5,2 miliar lebih. Laporan tersebut menyatakan, empat dari virus corona yang saat ini diketahui menginfeksi manusia dan mudah menyebar ke seluruh dunia karena gejala ringan.

Lipsitch percaya bahwa COVID-19 kemungkinan akan menjadi virus corona kelima yang dapat menyebar luas di antara manusia. Jika wabah belum bisa dikendalikan, maka di masa mendatang istilah musim pilek dan influenza dapat menjadi musim pilek, influenza, pneumonia Wuhan.

Sebelum pernyataan Lipsitch, pendapat serupa telah diajukan oleh ahli dari Kanada dan AS lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli kesehatan memperingatkan bahwa virus corona masuk kategori pandemi Penyakit X yang bisa membunuh 80 juta umat manusia.

Seperti dilansir dari Solopos.com, virus korona baru yang mematikan cocok dengan apa yang disebut kategori Penyakit X, seorang pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini