Tak Bisa Solo, Atasi Stunting Harus Keroyokan

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 04 Maret 2020 19:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 04 481 2178229 tak-bisa-solo-atasi-stunting-harus-keroyokan-qnB1xJJCoY.jpg Ilustrasi. (Nursingschool)

UPAYA pencegahan dan penurunan angka stunting di Indonesia harus melibatkan banyak kalangan. Pemerintah memang berperan aktif, begitu juga dengan masyarakat.

Stunting adalah masalah kurang gizi dan nutrisi kronis yang ditandai tinggi badan anak lebih pendek dari standar anak seusianya. Anak-anak dapat mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, seperti lambat berbicara atau berjalan, hingga sering mengalami sakit.

stunting

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen di mana artinya satu dari tiga balita mengalami stunting. Indonesia sendiri, kata dia, merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia.

Pakar Kesehatan Dr dr Supriyantoro, SpP, MARS, mengatakan, kasus stunting atau kegagalan tumbuh kembang anak akibat malnutrisi kronis di Indonesia menjadi pekerjaan besar pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Terlebih nominal target yang dituju Presiden Jokowi terbilang sangat ambisius yakni 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

"Pencegahan stunting dilakukan dengan upaya mengawal 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dengan program pemberian makan bayi dan anak (PMBA) termasuk ASI Eksklusif, makanan pendamping ASI, dan menyusui sampai 2 tahun atau lebih," ucap Supriyantoro dalam keterangan tertulis Temu Pakar Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Penyebab masih tingginya angka stunting di Indonesia sangat kompleks. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya informasi pada masyarakat tentang pentingnya memperhatikan asupan gizi, serta kebersihan diri pada ibu hamil dan anak di bawah usia dua tahun.

Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi seimbang, serta pemberian ASI yang kurang tepat, juga jadi pemicu anak stunting.

"Pekerjaan rumah ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Butuh kerjasama lintas sektor untuk mencapai target tersebut. Istilahnya konvergensi atau keroyokan," imbuhnya.

Stunting, ucap Supriyantoro, tidak hanya dialami keluarga prasejahtera. Stunting rupanya juga dapat dialami keluarga yang mampu. Akibatnya, kata dia, stunting tidak hanya menganggu pertumbuhan fisik, melainkan perkembangan otaknya juga terganggu.

Supriyantoro menyebut, persoalan stunting tidak bisa dipandang sepele. Anak dengan kondisi stunting cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang rendah.

Ketika anak gagal tumbuh, perkembangan fisik dan kognitifnya pun terpengaruh. Akibatnya, tingkat kecerdasannya menurun dan anak jadi mudah sakit. Di masa dewasa, produktivitas mereka juga menurun, sehingga kesulitan untuk bersaing.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini