Punya Penyakit Langka, Gadis 21 Tahun Ini Dibuat Menopause

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 06 Maret 2020 11:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 06 481 2179042 punya-penyakit-langka-gadis-21-tahun-ini-dibuat-menopause-qNFZSIAnmw.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SEORANG mahasiswa jurusan keperawatan berusia 21 tahun, Kia Morne mengalami penyakit endometriosis yang menyiksa hidupnya. Penyakit tersebut membuatnya sakit perut hebat, mual, masalah usus dan menimbulkan tekanan darah rendah.

Seiring waktu, dokter mendiagnosis Kia mengalami keracunan makanan, alergi dan sindrom iritasi usus. Namun Kia akhirnya mendapatkan diagnosa ketika ia berusia 19 tahun setelah seorang dokter umum wanita menjalani operasi eksplorasi perutnya yang biasa disebut laparoskopi.

"Ada banyak kesalahan diagnosis, jadi saya merasa lega bahwa penyakit saya akhirnya memiliki nama. Tapi tidak ada obatnya,” terang Kia melansir dari The Sun, Jumat (6/3/2020).

Zoladex adalah hormon buatan manusia yang menyebabkan menopause.

Penyakit tersebut begitu kompleks dan sulit untuk disembuhkan. Hingga akhirnya dokter memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk meringankan penderitaannya adalah memberinya Zoladex. Zoladex adalah hormon buatan manusia yang menyebabkan menopause.

Dalam uji coba pengobatan rutin, Kia pertama kali memakai pil kontrasepsi tetapi cara itu tidak berhasil. Setelah menderita kram yang menyiksa selama lima tahun, dokter memutuskan untuk memberikan Kia Zoladex.

Setelah diobati oleh Zoladex oleh dokter, Kia langsung mengalami ke efek samping yang mengerikan. Beberapa di antaranya adalah keringat panas, perubahan suasana hati dan rambut rontok. Untungnya gadis itu, berhasil menemukan kelegaan dari endometriosisnya.

Kia pun membagikan kisah mengenai penyakitnya untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi yang melemahkan yang mempengaruhi satu dari sepuluh wanita. Di sisi lain, Kia juga tengah mengumpulkan uang untuk membekukan sel telurnya. Pembekuan sel telur ini dilakukan dengan harapan agar Kia bisa memiliki anak di masa depan.

"Menderita endometriosis adalah perjuangan yang berkelanjutan. kamu merasa malu kondisinya berkaitan dengan menstruasi sehingga harus didiagnosis. Menjalani perawatan berarti kamu mungkin tidak dapat memiliki anak,” ucap Kia.

Obat itu dipercaya dapat mengurangi pertumbuhan endometriosis dengan menghentikan menstruasi sama sekali. Sistem kerja obat ini yakni dengan mematikan ovarium untuk menghentikan produksi estrogen, yang memperburuk kondisi tersebut.

ovarium untuk menghentikan produksi estrogen, yang memperburuk kondisi tersebut.

Zoladex adalah pengobatan yang berisiko, karena indung telur Kia dapat berjuang untuk merangsang kembali jika dia terlalu lama mengalami menopause kimia. "Berhubungan dengan organ reproduksi dan kesuburan, membuat saya merasa sangat luar biasa dan menghancurkan,” imbuhnya.

Kia mengaku sangat khawatir untuk dalam hal memiliki momongan. Terlebih memiliki anak adalah impian Kia di masa depan. Ia pun wajib mengumpulkan dana sebesar 5 ribu poundsterling atau setara Rp92 juta.

Saat ini Kia melakukan terapi penggantian hormon untuk membantu meringankan beberapa efek samping. Sayangnya, efek samping terburuk dari menopause dini dan endometriosis adalah kesuburan. Kia harus memikirkan kesuburannya dan harus siap tidak dapat memiliki anak.

Pada pengalaman pahitnya, pembekuan telurnya hanya tersedia untuk pasien kanker di NHS. Di Inggris, biaya pembekuan telur rata-rata berkisar antara 3.500 poundsterling hingga 4.500 poundsterling atau sekira Rp64,8 juta hingga Rp83,3 juta untuk satu siklus perawatan.

Selain harga ini, ada biaya tahunan untuk menyimpan telur yang dibekukan mulai dari 200 poundsterling hingga 360 poundsterling atau setara Rp3.7 juta hingga Rp6,6 juta.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini