Share

Benarkah Perempuan Lebih Gampang Marah Dibanding Pria?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Okezone · Minggu 08 Maret 2020 09:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 08 612 2179933 benarkah-perempuan-lebih-gampang-marah-dibanding-pria-52zfTfWeA5.jpg Ilustrasi (Foto : Lovepanky)

Seseorang akan marah apabila dihadapi dengan suatu masalah yang menjengkelkan. Tapi benarkah perempuan lebih galak dan gampang marah dibandingkan pria?

Merangkum dari The Guardian, pria rata-rata lebih agresif daripada wanita, sehinggal sering diasumsikan cepat marah. Tapi kenyataannya tidaklah seperti ini.

Penelitian secara konsisten menemukan bahwa wanita mengalami kemarahan sesering dan seintens pria. Pria yang merasa marah lebih cenderung menunjukkan agresi, meskipun ini tidak berarti bahwa wanita tidak termotivasi oleh kemarahan.

Salah satu studi, yang dilakukan para ilmuwan di Southwest Missouri State University mensurvei sekira 200 pria dan wanita. Hasilnya menyatakan bahwa wanita sama marahnya dan bertindak atas kemarahan mereka sesering pria.

Perbedaan utama yang mereka identifikasi adalah pria merasa kurang efektif ketika dipaksa untuk menahan amarah mereka. Sementara wanita tampak lebih mampu mengendalikan respons impulsif langsung terhadap amarah.

Beberapa orang berpendapat bahwa perbedaan gender ini berakar pada perbedaan mendasar dalam struktur biologi otak. Penelitian lain yang dilakukan oleh Ruben dan Raquel Gur, yang merupakan pasangan suami-istri di Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania.

Pasangan Bertengkar

Mereka menemukan amigdala (saraf yang merespon emosi) memiliki ukuran yang sama pada pria dan wanita. Sementara wilayah kedua yang disebut korteks frontal orbital (saraf yang mengendalikan impuls agresif) jauh lebih besar pada wanita.

Mereka berharap penelitian ini bisa membantu menjelaskan mengapa wanita tampak lebih baik dalam menjaga emosi terhadap masalah yang terjadi. Saat ini masih banyak penelitian yang menjelaskan sejauh mana biologi otak dapat memengaruhi perbedaan gender dalam hal kemarahan.

Selain faktor biologi pada otak, para peneliti menduga perilaku lainnya di lingkungan dan masyarakat juga memainkan peran penting. “Kami tahu bahwa cara guru memperlakukan anak perempuan dan anak laki-laki di sekolah sangat berbeda dan itu dapat memengaruhi kemampuan untuk mengendalikan emosi,” tutur Psikolog di Universitas Yale, Arielle Baskin-Sommers.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini