Berkaca dari Kasus Remaja Bunuh Bocah, Benarkah Nonton Film Horor-Thriller Bisa Picu Pembunuhan?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 09 Maret 2020 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 09 196 2180537 berkaca-dari-kasus-remaja-bunuh-bocah-benarkah-nonton-film-horor-thriller-bisa-picu-pembunuhan-vzuk2v1CIo.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Remaja berusia 15 tahun menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari, Jakarta Barat, Kamis (5/3/2020). Ia mengaku telah membunuh tetangganya sendiri yang masih berusia 5 tahun.

Berdasar penutupan pelaku, NF, ia tega menghabisi nyawa bocah tersebut terinspirasi dari film horor/thriller. Mayat bocah itu pun disimpan pelaku di dalam lemari.

Kini, pelaku tengah menjalani pemeriksaan psikologis untuk diketahui bagaimana status kesehatan jiwanya. Orangtua pelaku pun diperiksa polisi.

Pertanyaan pun muncul, apakah benar sering nonton film yang memperlihatkan adegan pembuhunan bisa memicu seseorang untuk membunuh?

Nonton

Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan, semua perilaku manusia didasari oleh interaksi dua faktor; faktor dalam dan faktor luar.

Faktor dalam dimaknai sebagai gen, kondisi otak, kromosom, dan lainnya. Sementara itu, faktor luar dimaknai sebagai lingkungan, salah satunya pola asuh orangtua.

 "Pada beberapa anak dari orangtua yang bercerai dan tidak memiliki hubungan baik setelah perceraian, mereka cukup rentan. Namun, pada kondisi tertentu, ada juga anak yang baik-baik saja kondisinya meski orangtuanya bercerai," terang Mei pada Okezone melalui pesan singkat, Senin (9/3/2020).

Selain pola asuh, pengalaman mendapati kekerasan atau bully juga jadi faktor luar lainnya. Nah, menonton film atau membaca komik yang memperlihatkan adegan kekerasan, atau memainkan game online yang mengajarkan kekerasan juga termasuk dalam faktor luar.

"Faktor ini sangat memengaruhi seorang anak akan berperilaku seperti apa yang dia lihat," tegas Mei.

Dalam menyelami kasus ini, Mei juga menggunakan teori 'Social Learning Theory' dari Bandura untuk melihat lebih jauh bagaimana kebiasaan seseorang memberi dampak pada perilakunya.

'Social Learning Theory' dari Bandura menjelaskan, perilaku manusia dalam hal interaksi merupakan timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Orang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain, sikap, dan hasil dari perilaku tersebut.

“Kebanyakan perilaku manusia dipelajari observasional melalui pemodelan yaitu dari mengamati orang lain. Kemudian hasilnya berfungsi sebagai panduan untuk bertindak," bunyi teori ini.

Anak Nangis

Jadi, sambung Mei, banyak faktor yang membuat seorang anak bisa berperilaku di luar batas kemanusiaan, bukan hanya satu faktor semata.

"Jadi klo orangtua menganggap tontonan, bacaan, komik, game kekerasan tidak memiliki dampak bagi perilaku anak, silahkan tunggu saat dia remaja seperti apa," papar Mei.

Ia menambahkan, apalagi jika faktor pemicu tersebut dikonsumsi oleh remaja. "Kita tahu usia remaja adalah masa peralihan di mana mereka akan mencoba banyak hal untuk mendapatkan kepuasan dan mencari perhatian dari orang lain," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini