nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serunya Foto Selfie dengan Buaya Sungai Nil

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 09 Maret 2020 22:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 03 09 406 2180758 serunya-foto-selfie-dengan-buaya-sungai-nil-8FkSwdXREx.jpg Buaya sungai Nil (Foto: AFP)

BUAYA sungai Nil menjadi sumber pendapatan bagi minoritas kaum Nubia, Mesir. Para pengunjung akan membayar mahal untuk dapat melihat makhluk buas ini dijinakkan.

Selain mendatangkan pundi-pundi uang, buaya sungai Nil memainkan peran penting dalam budaya kelompok etnis dengan sejarah yang berasal dari zaman Firaun ini. Orang-orang Nubia secara tradisional tinggal di sepanjang tepi Sungai Nil di Mesir selatan dan meluas hingga ke Sudan utara.

Gharb Soheil salah satu desa Nubia dekat Aswan, kepala buaya sungai Nil yang dijadikan mumi masih menghiasi pintu-pintu rumah tradisional berkubah biru dan putih. Buaya memiliki makna penting yakni keberkahan dalam keyakinan masyarakat Nubia.

Buaya sungai nil dijadikan mumi

Di Gharb Soheil, mumi buaya sungai Nil yang diletakkan di pintu menunjukkan bahwa pemilik rumah menyimpan reptil besar sebagai hewan peliharaan. Seorang pria bernama Mamdouh Hassan mengusap punggung Francesca, seekor buaya berumur 15 tahun yang panjangnya 1,5 meter. "Saya telah membesarkannya sejak dia lahir. Dia hidup dengan ikan, daging, dan ayam,” ucap pria berusia 45 tahun itu, melansir dari Saudi Gazette, Senin (9/3/2020).

Selama masa pemerintahan Presiden Gamal Abdel Nasser, pembangunan Bendungan Tinggi Aswan menciptakan reservoir di atas tanah tradisional Nubia. Ketika Danau Nasser mulai terisi pada 1964, 44 desa Nubian dilanda banjir.

Mumi buaya jadi atraksi wisata

Akibatnya buaya sungai Nil mendapat manfaat terhadap habitat baru dari efek banjir tersebut. Nasser juga tidak pernah memenuhi janjinya untuk memberikan kompensasi yang memadai bagi penduduk Nubia di sebagai tempat tinggal baru.

Sekira 50 ribu warga Nubia dipindahkan ke desa-desa di utara bendungan, di tepi barat Sungai Nil dekat Kom Ombo dan Aswan. Tempat tersebut adalah sebidang tanah sempit dengan ruang terbatas untuk pertanian.

Sejak saat itu, orang-orang Nubia menuntut pengembalian tanah mereka dan mempertahankan budaya dengan memodernisasi tradisi mereka. Caranya dengan menjaga buaya sungai Nil untuk menambah pendapatan dan mempromosikan warisan mereka.

"Ayah saya adalah salah satu orang pertama di desa Nubia yang benar-benar memelopori gagasan membawa buaya sebagai hewan peliharaan untuk memikat wisatawan," terang Hassan.

Setelah 20 tahun, Hassan telah mengembangkan indera yang tajam untuk mengetahui di mana dan kapan telur buaya liar sungai Nil akan menetas. Buaya betina bertelur di sepanjang tepi Danau Nasser di mana Hassan mengawasi bayi reptil muncul sebelum membawanya pulang.

Hassan menyebut Francesca adalah bintang pertunjukan di desa. Ia dinamai oleh turis Italia yang menikmati kepribadiannya yang cerah. Oleh sebab itu Hassan memutuskan untuk tetap menggunakan nama tersebut.

Pengunjung dapat mengambil foto selfie mereka dengan binatang buas tersebut, sementara penduduk desa menghibur para wisatawan dengan cerita rakyat Nubia tentang buaya. Hany, seorang turis dari Kairo mengaku senang dengan atraksi Hassan yang membuka mulut buaya sungai Nil lebar-lebar dengan tangan kosong.

"Saya datang ke sini bersama keluarga untuk menghabiskan liburan sekolah, agar anak-anak dapat menikmati melihat buaya," kata wanita berusia 35 tahun itu.

Dalam kepercayaan Firaun kuno, dewa Sobek berkepala buaya mewujudkan sifat Sungai Nil dan didoakan untuk perlindungan dari banjir tahunan. Sebuah kuil didedikasikan untuk Sobek di Kom Ombo.

Kuil tersebut diukir dengan piktogram dan hieroglif yang merinci pembalseman buaya sungai Nil. Hingga hari ini, orang Nubia masih mempertahankan tradisi taksidermi buaya. Mereka tetap setia menggunakan teknik yang sudah berusia selama berabad-abad. "Meskipun kami tahu betul harga kulit buaya, tapi kami tidak menjualnya, kami menghargainya," jelas Hassan.

Seekor buaya sungai Nil yang mati akan dikuliti dan dari perutnya akan diisi dengan jerami atau serbuk gergaji. Buaya besar membutuhkan waktu sekira satu bulan untuk dijadikan mumi sedangkan yang lebih kecil mengering dalam beberapa hari.

Abdel-Hakim Abdou, seorang pemilik kafe berusia 37 tahun merekomendasikan terarium Hassan sebagai objek wisata yang harus dilihat. Pasalnya Hassan akan menceritakan tentang pentingnya buaya sungai Nil bagi masyarakat Nubia. "Sungai Nil untuk Nubia melambangkan kehidupan. Semua yang berada di dalamnya kita anggap sebagai malaikat," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini