Cerita Margianta Memperjuangkan Kesetaraan Gender Melalui Aksi Teatrikal

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 09 Maret 2020 22:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 09 612 2180766 cerita-margianta-memperjuangkan-kesetaraan-gender-melalui-aksi-teatrikal-u4ilbgyxpN.jpg Aksi Teatrikal Memperjuangakan Kesetaraan Gender (Foto: Dimas Andhika/Okezone)

Jalan raya di dekat Istana Negara siang itu tampak ramai tak seperti biasanya. Gema suara yang terpantul dari alat pengeras terdengar begitu nyaring di telinga. Sekelompok pria berbaju coklat juga terlihat bersiaga di sisi jalan.

Kawasan ini memang menjadi salah satu lokasi langganan bagi peserta aksi untuk menyuarakan aspirasi mereka. Tak terkecuali bagi ribuan massa yang tergabung dalam aksi #GerakPerempuan. Di Hari Perempuan Internasional 2020 yang jatuh setiap 8 Maret, mereka kembali turun ke jalan.

Meski terik matahari menusuk tulang, massa aksi tetap bersuara lantang menuntut keadilan. Suasana semakin bertambah riuh ketika sesosok pria berjubah hitam turut bergabung ke dalam barisan.

aksi teatrikal hari perempuan

Sekilas, penampilan pria itu menyerupai salah satu superhero besutan DC Comics. Selain mengenakan jubah hitam, dia menutupi wajahnya dengan topeng hitam. Sebuah lambang berbentuk kelelawar juga tersemat rapi di dadanya.

Okezone pun semakin tertarik untuk berbincang langsung dengan sosok misterius tersebut. Terlebih setelah melihat pesan pada poster yang ada di genggamannya. Isi pesan itu berbunyi, "Hey Government! Stop Mansplainning Woman With Your Policy!".

Kesempatan tersebut akhirnya datang ketika rombongan massa tiba di titik terakhir. Sosok pria berjubah hitam itu tampak memisahkan diri untuk beristirahat sejenak di bawah pepohonan rindang. Dan untuk pertama kalinya kami saling berkenalan. Dia adalah Margianta Surahman.

Massa aksi berkostum batman

Teatrikalitas untuk perjuangan

Kepada Okezone, Margianta mengaku sengaja mengenakan kostum superhero dalam aksi-aksi yang memperjuangkan keadilan. Terutama menyangkut isu kesetaraan gender. Bahkan, sebelum mengikuti Women's March 2020, di tahun 2019, Margianta juga sempat menyita perhatian publik lantaran mengenakan kostum Darth Vader di tengah kerumunan massa.

"Tahun lalu saya memakai kostum Darth Vader. Kenapa? Karena tokoh ini awalnya baik, terus jadi jahat, dan baik lagi. Kami turun ke jalan ini karena percaya semua orang pada dasarnya baik, begitu juga dengan para pemangku kebijakan (pemerintah)," ujar Margianta.

"Kami ingin menyuarakan hal-hal baik supaya 'mereka' menjadi orang yang baik dan mengambil kebijakan yang baik juga. Terutama kebijakan yang adil gender dan melindungi kaum perempuan," timpalnya.

Tahun ini, Margianta kembali mengenakan kostum superhero. Alasannya pun lagi-lagi sama. Namun, Margianta menegaskan bahwa penggunaan kostum-kostum tersebut juga bertujuan untuk mengubah mindset masyarakat terhadap isu-isu yang selama ini mereka anggap terlalu serius. Dia menyebutnya dengan istilah 'Teatrikalitas untuk Perjuangan'.

"Teatrikalitas itu penting menurut saya. Lewat cara inilah saya dapat menarik perhatian dan simpati publik. Contohnya mas sendiri. Tadi mas mendatangi saya karena mungkin melihat penampilan saya berbeda dengan yang lain," ucap Margianta.

Lebih lanjut dia menjelaskan, di balik pemilihan kostum Batman ini, sebetulnya juga terdapat sebuah makna tersirat. Batman, kata Margianta, merupakan sosok superhero yang seharusnya tidak ada.

Dia terpaksa muncul karena telah terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial di Kota Gotham (kota fiksi di film tersebut). Kesenjangan inilah kemudian berkontribusi memicu terjadinya ketidakadilan gender.

demo kostum batman

"Lewat kostum ini, saya ingin menyampaikan pesan bahwa Batman itu memang seharusnya tidak ada. Superhero itu adalah kita-kita semua, atau para perempuan-perempuan yang termajinalkan, yang setiap hari teropresi oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang seksis, misogynist, klasis, dan diskriminatif," ungkapnya.

Kendati demikian, Margianta menegaskan partisipasinya pada aksi ini hanya sebatas aliansi, mitra, dan pendamping saja. "Laki-laki memang berperan penting daam gerakan kesetaraan gender, tapi kita tidak boleh mengambil spotlightnya. Biarkanlah perempuan yang berbicara, saatnya kita memberikan ruang untuk mereka. Karena selama ini laki-laki sudah memiliki privilege dari segi sosial, politik, dan budaya," ungkap Margianta.

Mendobrak budaya patriarki

Pada aksi Women's March tahun ini, Margianta turut menyoroti sejumlah isu kesetaraan gender yang masih mengakar di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari hukum maupun kebijakan yang sifatnya masih mengedepankan nilai-nilai patriarki.

"Hukum kita itu masih patriarkis, kebijakan kita masih patriarkis. Buktinya darimana? Bisa dilihat dari RUU Ketahanan Keluarga dan Omnibus Law seperti. Begitu diskriminatifnya rancangan kebijakan pemerintah ini kepada para pekerja perempuan, dan perempuan yang termarjinalkan," katanya.

Margianta pun menyayangkan keputusan pemerintah yang dia klaim tidak melibatkan masyarakat atau orang-orang yang terdampak langsung oleh rancangan kebijakan tersebut.

Ambil contoh Omnibus Law. Istilah ini mulai dikenal luas sejak pidato pelantikan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2019 lalu. Pada dasarnya, Omnibus law lebih banyak berkaitan dalam bidang kerja pemerintah di bidang ekonomi.

Perlu diketahui pula bahwa dalam bahasa latin omnis berarti banyak. Artinya, omnibus law bersifat lintas sektor yang sering ditafsirkan sebagai UU sapujagat.

Contohnya di sektor ketenagakerjaan, pemerintah berencana mengubah skema pemberian uang penghargaan kepada pekerja yang terkena PHK. Besaran uang penghargaan ditentukan berdasarkan lama karyawan bekerja di satu perusahaan.

Namun, dalam proses perancangannya, Margianta mengatakan pemerintah justru tidak melibatkan para pekerja yang terdampak langsung oleh kebijakan tersebut.

"Omnibus Law kenapa yang diajak berdialog hanya bos-bosnya saja atau pemegang modal saja. Orang yang terdampak setiap hari tidak pernah diajak. Menurut saya, hal ini karena ada pandangan yang sangat klasis, bahwa para pekerja itu tidak terdidik," papar Margianta.

"Jadi, pemerintah kalau mau bikin kebijakan khususnya menyangkut hajat orang banyak, menyangkut hajat perempuan adat, atau perempuan yang termajinalkan, tolong libatkan perempuan-perempuan tersebut," tambahnya.

Maka dari itu, aksi-aksi global seperti Women's March ini harus dilokalisasikan, tentunya dengan konteks lokal agar masyarakat menjadi tergerak, merasa simpati, dan tertarik untuk memberikan dukungan.

"Itu lah sebabnya kita semua perlu untuk turun ke jalan, untuk menyuarakan pentinya kesetaraan gender bagi semua orang. Karena yang diuntungkan tidak hanya perempuan, tetapi laki-laki dan kaum lainnya," ucap Margianta.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini