Kasus Remaja Bunuh Balita, Psikolog : Orangtua Harus Lebih Peduli dengan Anak

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 10 Maret 2020 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 10 196 2181171 kasus-remaja-bunuh-balita-psikolog-orangtua-harus-lebih-peduli-dengan-anak-WaKazlcDWV.jpg Orangtua harus lebih peduli terhadap anak (Foto : Official iNews/Youtube)

Kasus remaja yang tega membunuh seorang balita di Jakarta telah menyita perhatian masyarakat Indonesia. sebagaimana diketahui gadis berusia 14 tahun berinisial NF tega membunuh APA seorang balita berusia lima tahun. Menurut penyelidikan, NF kerap melakukan hasrat untuk membunuh dan pada momen kali ini ia tidak bisa menahan keinginannya.

Menyikapi hal tersebut, Psikolog Pendidikan, Felisitas Kaban angkat bicara untuk menjelaskan fenomena yang terjadi. Menurutnya kasus pembunuhan ini bisa terjadi lantaran kurangnya pengawasan dari orangtua selaku orang yang paling dekat dengan anak.

“Kita tak bisa salahkan film horor jadi penyebab dan tidak ada benefitnya. Tapi balik lagi, ini anak masih usia remaja masih membutuhkan pendampingan. Jadi untuk orangtua ayo lebih peduli, luangkan waktu sedikit tapi tiap hari untuk mengamati perilaku anak sehari-hari,” terang Felisitas, dalam siaran iNews TV baru-baru ini.

Felisitas Kaban

Jika sang anak tidak memiliki orangtua, maka orang terdekat lainnya juga bisa melakukan perhatian dan kontrol. Lingkungan sekolah menjadi salah satu yang mengambil peranan penting bagi pengawasan sang anak.

“Kan ada pihak sekolah yang nantinya berhubungan dengan wali. Kita bekerjasama dalam lingkungan ini ring satunya siapa. Dia ke sekolah bersama neneknya yaa berarti ring satunya sekolah dengan neneknya. Intinya lingkungan di sekitar anak ini harus peduli tentang perilaku sehari-hari,” sambungnya.

Lebih lanjut, Felisitas mengatakan tetangga juga bisa mengambil peranan dalam memberikan perhatian dan kontrol kepada sang anak.

“Tapi kalau sekarang tetangga kan agak pr ya, lingkungannya eksklusif dan individual. Kita komentar tentang anak orang belum tentu diterima. Tapi kita pedulinya dulu deh, peduli sama mau tau ini levelnya normal atau diluar batas wajar,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini