Kisah Stefani Alami DBD di Sikka, Malah Diberi Obat Lambung

Rabu 11 Maret 2020 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 10 481 2181193 kisah-stefani-alami-dbd-di-sikka-malah-diberi-obat-lambung-zzp5wUK7bZ.jpg Ilustrasi. (Shutterstock)

Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD). Menyusul dengan meninggalnya 14 orang yang terjangkit nyamuk aedes aegypti.

Mayoritas pasien yang dirawat di rumah sakit di Sikka, terdiri dari kalangan anak-anak. Pasien mengalami gejala yang sama sebelum dilarikan ke rumah sakit akibat DBD.

Elisabeth, warga Maumere, Sikka, bercerita tentang anaknya, Stefani Nasa, yang berulang kali diberi obat pereda nyeri lambung di sejumlah klinik dan rumah sakit.

nyamuk

Baru belakangan Stefani dinyatakan menderita DBD, setelah pingsan beberapa kali dan menderita demam tinggi selama lima hari.

"Awalnya dia panas, langsung kami bawa ke klinik. Di sana diberi obat lambung. Besok paginya suhu badannya turun, tapi sore panas lagi. Diberi obat, dingin lagi dua hari," kata Elisabeth," dilansir Okezone dari BBC News Indonesia.

Sayang lima hari demam, Stefani tak kunjung membaik. Saat konsultasi dengan dokter, bocah pasien DBD itu diberikan obat lambung.

"Waktu badannya panas lagi, dokter beri dia obat lambung karena setiap hari dia memang makan mi. Hari kelima dia pingsan, kondisi fisiknya jatuh," tuturnya.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pun mengunjungi Sikka untuk memastikan kondisi penyebaran DBD. Untuk mengurangi rantai penularan, Menkes Terawan bahkan telah mengirim 10 dokter dari Jakarta.

Sayangnya lagi, seiring jumlah kasus DBD yang tinggi di NTT, persoalan ketersediaan ruang untuk pasien baru muncul, selain jumlah dokter yang tidak sebanding dengan penderita.

Terkait ini, Menkes Terawan yang ditemui di Maumere mengatakan, sarapan bukanlah hal yang terlalu penting dipikirkan. Namun bagaimana untuk terapi penanganan yang tepat.

"Dengan pendekatan preventif promotif, jumlah kasus bisa menurun sehingga sarana memadai dan pasien bisa diselamatkan dengan bantuan obat dan tenaga medis," ujarnya.

Setiap tahun, menurut data Kementerian Kesehatan, kejadian penyakit DBD di Indonesia cenderung meningkat pada pertengahan musim penghujan atau sekitar Januari.

Kemenkes secara resmi bersurat ke Kementerian Dalam Negeri agar mereka mengingatkan kepala daerah untuk aktif memimpin program pembasmian sarang nyamuk.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini