Penyebab Angka Kematian DBD di Nusa Tenggara Timur Tinggi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 11 Maret 2020 20:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 11 481 2181833 penyebab-angka-kematian-dbd-di-nusa-tenggara-timur-tinggi-IJIZcebYtg.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Kementerian Kesehatan secara resmi merilis data jumlah kasus demam berdarah (DBD) di Indonesia per 11 Maret 2020. Menurut laporan yang disampaikan oleh, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi di Kemenkes, jumlah kasus DBD saat ini menyentuh angka 17.820 kasus.

Provinsi Lampung menduduki peringkat pertama dengan jumlah kasus mencapai 3.431, kemudian disusul Nusa Tenggara Timur dengan torehan 2.732 kasus. Menilik data tersebut, tak pelak bila Pemerintah Provinsi NTT menetapkan kasus DBD ini sebagai Kasus Luar Biasa (KLB) sejak empat minggu lalu.

Ada beberapa faktor yang memicu tingginya kasus DBD di NTT. Salah satunya berkaitan erat dengan letak geografis daerah tersebut.

"Akses air bersih memang agak sulit di NTT, karena memang letak geografianya. Jadi pada saat kami asistensi di sana, banyak tempat-tempat perindukan nyamuk yang berasal dari timbunan air warga. Mereka terpaksa menimbun air untuk masak dan keperluan rumah tangga lainnya," terang Siti Nadia Tarmizi.

Dirjen Kemenkes

Selain itu, di wilayah NTT juga banyak terdapat semak-semak dan iklimnya terbilang lembab. Tempat-tempat seperti inilah yang menjadi sarang nyamuk aedes aegypti untuk berkembang biak.

Ditambah lagi, kebiasaan warga setempat yang terbiasa menimbun botol-botol bekas di belakang rumah mereka. Menariknya, terlepas dari kebiasaan buruk tersebut, ada beberapa fakta menarik yang berhasil ditemukan oleh Kemenkes sebagai pemicu terjadinya kasus demam berdarah.

Warga di Kabupaten Sikka rupanya gemar menghiasi pekarangan rumah mereka dengan ban-ban bekas yang ditanamani bebrbagai jenis tanaman. Sebagian di antaranya juga diketahui tengah melakukan budidaya tanaman menggunakan konsep hidroponik.

"Hidroponik itu baik, tapi di bawahnya kan ada genangan air. Tempat itulah yang digunakan nyamuk untuk berkembang biak. Penggunaan ban-ban bekas untuk memperindah taman juga jadi tempat perindukak nyamuk. Jadi hal-hal seperti ini harus diperhatikan," tegas Nadia.

Akibatnya, NTT kini menjadi salah satu provinsi yang menyumbang angka kematian tertinggi akibat kasus DBD. Bahkan, tahun ini jumlahnya meningkat cukup signifikan.

"Dibandingkan tahun lalu, tahun ini angka kematian di NTT relatif tinggi mencapai 32 orang dari total 104 kematian. Tahun lalu hanya ada 580 kasus dengan angka kematian 17 orang," tandasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini