Lalai Sadari Tanda Pre-Shock DBD Bisa Berisiko Kematian

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 11 Maret 2020 21:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 11 481 2181898 lalai-sadari-tanda-pre-shock-dbd-bisa-berisiko-kematian-IY2dKfG1Qz.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada di tengah hantaman isu kesehatan yang tengah marak belakangan ini. Tak terkecuali demam berdarah (DBD).

Bukan tanpa alasan, selain wabah virus korona, kasus demam berdarah kini juga tengah menyita perhatian Pemerintah Indonesia. Terlebih setelah ditetapkannya status KLB (Kasus Luar Biasa) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

"Demam berdarah jangan dianggap remeh. Karena sama seperti virus korona, DBD itu juga belum ada obatnya. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki sirkulasi darahnya supaya keadaan shock yang terjadi bisa dinormalkan kembali," terang Siti Nadia Tarmizi, saat temu media di Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2020).

Pernyataan tersebut tak terlepas dari perilaku masyarakat Indonesia yang dinilai masih menganggap sepele kasus demam berdarah. Salah satunya mengabaikan gejala-gejala DBD.

Pasien Demam Berdarah

Seperti diketahui, gejala DBD dimulai sejak empat sampai enam hari setelah infeksi dan berlangsung hingga 10 hari. Beberapa gejalanya adalah demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba.

Terkadang juga diiringi sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan otot yang parah, kelelahan, mual, muntah, ruam pada kulit yang muncul lima hari setelah demam, pendarahan ringan seperti mimisan, gusi berdarah atau memar.

Namun sayangnya, meski gejala-gejala tersebut telah dialami, masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan kesehatan mereka ke rumah sakit maupun fasilitas kesehatan (faskes) lainnya.

"Kita selalu sampaikan, kalau sudah demam 3 hari harus segera ke faskes. Ini berlaku untuk siapa saja. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan apakah benar pasien benar-benar terkena demam berdarah atau penyakit lain," tegas Nadia.

Dia menambahkan, biasanya pada pemeriksaan pertama, dokter atau tenaga medis akan mempersilakan pasien untuk pulang ke rumah. Namun dengan satu syarat, mereka harus datang lagi untuk melakukan pengecekan kedua.

"Pada tahap inilah banyak masyarakat yang kecolongan. Mereka merasa sudah sehat karena keringat sudah keluar. Tidak panas lagi. Padahal, itu bisa saja tanda-tanda pre-shock, dan ini perlu diwaspadai. Kalau sampai diiringi gusi berdarah dan mimisan tandanya trombosit sudah menurun," ungkapnya.

Lebih lanjut Nadia menjelaskan, pre-shock sendiri merupakan kondisi terjadinya gangguan sirkulasi darah yang tidak normal. Kondisi tersebut juga disertai sejumlah tanda-tanda seperti ujung tangan yang dingin, menurunnya tingkat kesadaran, hingga terjadi pendarahan di dalam tubuh.

DBD

Pada kasus anak-anak, pendarahan di dalam tubuh ini bisa dilihat dari warna kotorannya saat buang air besar (BAB).

"Biasanya berwarna cokelat hitam. Terus di tubuh mulai timbul bintik-bintik, dan kesadaran sudah mulai menurun. Kalau sudah seperti ini harus segera dibawa ke rumah sakit karena sudah cukup parah," kata Nadia.

Kelalaian dalam menanggapi tahap pre-shock inilah yang paling sering menyebabkan kematian pada kasus DBD. Pasalnya, pre-shock sendiri terbagi dalam beberapa stadium.

"Kalau sudah berat sekali pasti ada gangguan elektrolit. Jadi bukan hanya sekadar urusan cairan yang keluar dari pembuluh darah, tapi jauh lebih kompleks," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini