Waspada, Kebiasaan Tidur Mendengkur Bisa Memicu Kematian

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 13 Maret 2020 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 13 481 2182839 waspada-kebiasaan-tidur-mendengkur-bisa-memicu-kematian-3cVjRDYte6.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Setiap tanggal 13 Maret diperingati sebagai Hari Tidur Sedunia. Tahun ini, World Sleep Society sepakat mengangkat tema "Tidur Lebih Baik, Kehidupan Lebih Baik, Planet Lebih Baik".

Tema tersebut memang sengaja dipilih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kualitas hidup bisa diraih dengan menerapkan tidur yang sehat. Namun sayangnya, masih banyak orang yang menganggap sepele persoalan i i.

Padahal, gangguan tidur dan kebiasaan mendengkur alias ngorok bisa memicu kematian. Hal tersebut dijelaskan secara gamblang oleh dr Andreas Prasadja, RPSGT, praktisi kesehatan tidur di Snoring and Sleep Disorder Clinic.

"Kebiasaan mendengkur itu dapat memicu terjadinya penyakit hipertensi, stroke, jantung, depresi, hingga kematian. Tapi, bukan mendengkur yang sembarangan. Ada kriteria khususnya dan sering disebut dengan istilah Sleep Apnea," tuturnya saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Jumat (13/3/2020).

Tidur Mendengkur

Lebih lanjut dr Andreas mengatakan, gejala sleep apnea sebetulnya sangat sederhana. Penyakit ini seringkali ditandai oleh kebiasaan mendengkur dan rasa kantuk yang berlebihan. Perlu diketahui bahwa dengkuran pada pasien yang mengidap sleep apnea cenderung berbeda.

Menariknya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan penderita Sleep Apnea terbanyak. Jumlahnya ada di urutan kedua dunia setelah Amerika Serikat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dr. Rimawati Tedjasukmana, di Jakarta ditemukan penderita OSA pria 16,18 persen dan wanita 17 persen, dikutip dari msn.com.

"Sleep apnea itu artinya henti napas saat tidur. Jadi bukan ngorok biasa. Dengkurannya terkadang panjang lalu tiba-tiba berhenti selama beberapa detik, kemudian dia mendengkur lagi," kata dr Andreas.

"Ini sangat berbahaya karena seringkali tak kasat mata. Bahkan, ada beberapa kasus yang sampai tersedak. Pemicunya karena oksigen di dalam tubuh menurun dan jantungnya jadi bekerja lebih berat," timpalnya.

Andreas kemudian memberi contoh sederhana tentang bahaya dari sleep apnea. Dia mengatakan, bila tidak ditangani dengan tepat, sleep apnea dapat memicu kematian pada setiap kalangan, tak terkecuali bagi mereka yang rutin berolahraga.

"Kita sering terheran kenapa orang yang rutin olahraga malah kena serangan jantung. Jadi ada sebuah penelitian di Inggris. Penelitian itu membahas tentang kasus kematian seorang atlet yang diduga terkena serangan jantung. Padahal, setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, atlet itu punya kebiasaan mendengkur yang tidak biasa alias sleep apnea," ungkap Andreas.

Untuk menanggulangi penyakit ini, Andreas mengatakan setiap pasien harus melewati serangkaian pemeriksaan yang memakan waktu 3 hari sampai 1 minggu. Setelah itu baru mereka dapat menjalani treatment khusus.

Pemeriksaan dilakukan untuk merekam gelombang otak, mengecek tahapan tidur, minpi, kadar oksigen, hingga kerja jantung. Semuanya direkam dengan alat khusus, untuk memastikan bahwa pasien benar-benar mengidap sleep apnea.

Sementara untuk treatment atau pengobatannya sendiri, ada tiga skema yang biasanya dilakukan para ahli medis. Skema pertama adalah dental appliance. Di sini dokter spesialis tidur akan bekerjasama dengan dokter gigi, untuk membuatkan alat khusus untuk pasien sleep apnea.

"Alatnya harus dibuat oleh para ahli di bidangnya yakni dokter gigi. Jadi mereka akan membuatkan alat khusus untuk membuat rahang agak maju, lidah diganjal agar tidak jatuh kebelakang, supaya saluran pernapasannya lancar saat mereka tidur," tegas Andreas.

Skema kedua adalah pembedahan. Langit-langit mulut pasien akan dilebarkan dan pangkal lidah dikecilkan. Tujuannya supaya saluran pernpasannya menjadi lebih besar. Skema terakhir adalah dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP).

"CPAP itu alat yang digunakan dengan cara disambung ke hidung dan dipakai saat tidur. Fungsinya meniupkan tekanan untuk mengganjal supaya saluran napas tetap terbuka," tutup Andreas.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini