Tak Diizinkan Suami Bekerja, Ikhlas dan Syukur Jadi Kunci Perempuan Ini

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 14 Maret 2020 13:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 14 196 2183283 tak-diizinkan-suami-bekerja-ikhlas-dan-syukur-jadi-kunci-perempuan-ini-0pKeGn8LYH.jpg Ilustrasi ibu rumah tangga (Foto: Parent Map)

Konsep kesetaraan gender di antara laki-laki dan perempuan, nyatanya memang bukan jadi konsep yang bisa diaplikasikan di semua rumah tangga.

Jika ada suami yang dengan senang hati mengizinkan istrinya untuk bekerja, berkarir setinggi mungkin di bidang yang digeluti. Maka ada juga pastinya suami yang sama sekali tidak mengizinkan istrinya untuk menjadi seorang perempuan berkarir.

 mengurus anak

Tria, 30 tahun, merupakan ibu muda dari tiga orang anak laki-laki. Sebagai istri dan ibu rumah tangga, pembahasan perihal izin bekerja sudah ia bicarakan dengan sang suami, yang kala itu masih berstatus sebagai pacar.

Awalnya ketika masih pacaran, sang suami tak melarang dirinya untuk bekerja menjadi wanita karir. Izin dari sang pasangannya tersebut, dirasakan Tria sebagai wujud dari rasa sungkan sang pasangan untuk melarang-larang dirinya.

Namun pada akhirnya, kehamilan anak pertama yang datang dengan cepat di rumah tangganya, membuat sang suami dengan tegas tak mengizinkan dirinya untuk bekerja. Pasalnya, kehamilan anak pertama Tria kala itu cukup membuat kondisi fisiknya menurun.

“Waktu pacaran dia masih kasih kebebasan, terserah aku mau kerja atau full time di rumah. Awal nikah sempat kerja, tapi akhirnya aku hamil dan dari situ suami bilang tidak usah bekerja lagi karena aku mengandung. Waktu itu kondisinya aku mabuk parah,” kata Tria belum lama ini.

Menyadari kondisi kesehatannya saat hamil tak memungkinkan, Tria pun mengikuti kemauan suami agar ia tak bekerja dengan besar hati.

Ia sadar jika perintah sang suami tujuannya baik, demi kesehatan dirinya dan sang bayi.

Sejak menikah hingga sekarang telah dikarunia tiga orang putra, meski merasa bahagia dengan keluarga kecilnya ini. Namun Tria tak menampik, di tengah menjalani peran sebagai istri dan ibu full-time, sebagai mama muda ia pun pernah jenuh dengan rutinitas kesehariannya dan sempat merasakan ingin menjadi wanita karir yang memiliki pekerjaan di luar dan memiliki penghasilan sendiri sehingga bebas ingin membeli apapun.

“Pernah sih jenuh, sampai bilang ke suami ingin kerja. Suami bilang, oke boleh kerja sama orang asal gajinya harus lebih besar dari uang bulanan yang aku terima dari dia. Jelas itu enggak mungkin, jadi kalau jenuh palingan aku beraktivitas yang bikin semangat jalani peran diri sebagai ibu rumah tangga,” tambahnya.

Namun seiring berjalannya waktu dan anak yang terus bertambah, dari satu hingga tiga orang anak. Tria mengungkapkan ia sebagai istri merasa ikhlas, meski dilarang bekerja oleh sang suami tercinta.

Malah sekarang, ia merasa bersyukur bisa menyaksikan dan mendampingi langsung tumbuh kembang ketiga putranya sedari bayi hingga sudah beranjak besar seperti sekarang. Tria mengaku terkadang ia bingung dan trenyuh mendengar cerita para working mom yang kebingungan saat anak sakit namun harus tetap bekerja.

“Bersyukur, mencoba berfikir positif ada baiknya juga jadi ibu rumah tangga full-time. Aku tahu perkembangan semua anak, bisa datang ke acara sekolah anak, jagain anak sakit. Aku pribadi melihatnya juga ke perkembangan anak-anak, lebih baik intinya ada mamanya di rumah. Boleh sih buka bisnis sendiri, tapi ya nanti memang nunggu saat anak-anak sudah besar,” pungkas Tria.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini