nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Diremehkan, Penyakit Glaukoma Ternyata Berisiko Kebutaan Permanen

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 14 Maret 2020 15:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 14 481 2183333 jangan-diremehkan-penyakit-glaukoma-ternyata-berisiko-kebutaan-permanen-WxcbSkytPe.jpg Penyakit glaukoma (Foto: Pradita Ananda/Okezone)

Bicara soal penyakit di bagian mata, mungkin selama ini masyarakat awam lebih familiar dengan penyakit katarak. Padahal selain katarak, ada juga penyakit glaukoma yang menjadi ancaman serius bagi indera penglihatan kita.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, melalui laporan Situasi Glaukoma di Indonesia 2019, mengungkapkan secara global jumlah penderita glaukoma di dunia pada 2020 mencapai angka 76 juta, atau dengan kata lain meningkat sekitar 25,6 persen dari angka satu dekade silam.

 sakit mata

Sementara di Indonesia sendiri, jumlah kasus baru glaukoma pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia pada 2017 lalu, tercatat sudah di angka 80.548.

Di rumah sakit khusus mata, seperti di Jakarta Eye Center saja teranyar pada 2019 kemarin tercatat sudah ada 42.662 pasien.

Menariknya, glaukoma masuk menjadi salah satu penyakit tak bergejala. Ya, glaukoma nyaris tak memiliki gejala apapun pada tahap awal sehingga membuat banyak orang yang sudah terkena penyakit ini tidak sadar kalau dirinya sudah menderita glaukoma.

Tahukah Anda, faktanya penyakit glaukoma ini ternyata jadi salah satu momok penyebab kebutaan di seluruh dunia. Menempati posisi nomor dua, penyebab kebutaan di dunia setelah katarak.

Dokter Subspesialis Glaukoma, Rumah Sakit Jakarta Eye Center dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Prof. DR. dr. Widya Artini Wiyogo mengatakan, dampak kebutaan yang dibawa oleh penyakit glaukoma ini diketahui sifatnya fatal sebab bersifat kebutaan permanen.

“Ruas pandang mulai berkurang sedikit-sedikit, jadi suka enggak dirasa. Lama-lama enggak kelihatan. Jika ini kejadian, butanya permanen. Beda sama katarak, kebutaannya bisa hilang, pasien bisa lihat lagi. Tapi kalau kena glaukoma ini sulit,” jelas Profesor Widya, saat ditemui Okezone, Sabtu (14/3/2020) di gelaran JEC World Glaucoma Week & Bakti Katarak 2020 di JEC, Menteng, Jakarta Pusat.

Tidak hanya itu, penyakit glaukoma yang sifatnya progresivitas ini dampaknya mulai dari kecemasan, depresi, dan mempengaruhi kualitas hidup penyandangnya.

“Progresivitas, artinya terus memburuk. Jutaan sel saraf yang mati bikin saraf mata jadi rusak. Kronis dan membutakan, glaukoma ini penyakit di bidang mata yang dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup penyandangnya. Kecemasan, depresi, keterbatasan aktivitas sehari-hari karena ganggungan lapang pandang, ada kendala di fungsi sosial karena mulai hilang penglihatan dan pengaruh finansial,” imbuhnya.

Mengingat ini adalah tipe penyakit tak bergejala, lalu apa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan. Apakah mengurangi aktivitas mata seperti menatap layar monitor handphone atau komputer dari jarak dekat dengan tingkat sinar yang tinggi, bisa membantu sebagai upaya pencegahan?

Sayangnya, jawabannya tidak, sebab langkah antisipasi yang bisa dilakukan ialah dengan pendeteksian seawal mungkin. Seawal mungkin, sebisa mungkin sebelum memasuki usia 40 tahun. Sebab usia 40 tahun, adalah kelompok yang lebih berisiko terkena glaukoma.

Lalu selain orang-orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun, siapa saja sih yang masuk sebagai orang-orang dengan kelompok risiko tinggi menderita glaukoma?

“Selain orang-orang yang usianya sudah lebih dari 40, orang-orang yang keluarganya juga punya riwayat penderita glaukoma, penderita minun dan hiperopia tinggi, pengidap diabetes melitus, hipertensi, dan kelainan kardiovaskular, pernah cedera mata atau trauma, dan pengguna obat-obatan steroid dalam jangka panjang,” pungkas Profesor Widya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini