Alasan Ilmiah Perempuan Rentan Alami Glaukoma

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 15 Maret 2020 15:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 15 481 2183670 alasan-ilmiah-perempuan-rentan-alami-glaukoma-74nV9iNRdW.jpg Ilustrasi. (Wellchallyn)

GLAUKOMA masih menjadi salah satu momok penyebab utama kebutaan di seluruh dunia. Bahkan, menduduki posisi tertinggi kedua penyakit mata, setelah katarak.

Nyaris tak memiliki gejala pada tahap awal, glaukoma justru berpotensi memberi impak yang lebih fatal, hingga kebutaan permanen.

Ada sederet kategori orang-orang yang berisiko tinggi mengalami glaukoma. Yakni orang-orang yang usianya sudah lebih dari 40, orang-orang dengan keluarganya ada riwayat penderita glaukoma, penderita minus dan hiperopia tinggi, pengidap diabetes melitus, hipertensi, dan kelainan kardiovaskular, pernah cedera mata atau trauma, serta pengguna obat-obatan steroid dalam jangka panjang.

glaukoma

Diungkapkan oleh Prof DR dr Widya Artini Wiyogo, SpM (K), dokter Subspesialis Glaukoma, jika dilihat dari segi jenis kelamin, perempuan ternyata berisiko lebih tinggi, dibandingkan laki-laki terkena glaukoma. Faktor pertama datang dari segi anatomi tubuh, yakni bentuk bagian dari mata di perempuan.

“Perempuan sebenarnya itu matanya lebih kecil dibandingkan laki-laki kan. Sehingga menyebabkan glaukoma pada sudut tertentu, lebih banyak terjadi pada perempuan, dibandingkan pria,” terang Prof Widya kala ditemui Sabtu 14 Maret 2020, di Jakarta Pusat.

Lebih jelas tentang anatomi, keadaan anatomi tertentu pada yakni seperti ketika seseorang menderita glaukoma primer sudut tertutup dan tidak dilakukan tindakan laser. Bisa juga terjadinya PAC (Primary Angle Closure), yakni sudah mulai naiknya tekanan bola mata secara perlahan namun tidak disadari.

Lagi-lagi gen lah yang akan pengaruhi faktor tersebut, sehingga ketika seseorang memiliki faktor predisposisi, yaitu kecenderungan khusus ke arah suatu keadaan atau perkembangan tertentu, dari bentuk anatomi tersebut. Contohnya sudut bilik mata yang sempit, kedalaman bilik mata yang dangkal, lensa mata yang makin membesar seiring bertambahnya usia.

Diterangkan Prof Widya, apabila seseorang memiliki bentuk anatomi sedemikian rupa, maka ada rasa emosional yang timbul. Inilah mengapa faktor psikis, lebih emosional disebut sebagai faktor pencetus yang menjadikan kaum perempuan berisiko lebih tinggi terkena glaukomanya dibandingkan laki-laki.

“Dan ada faktor pencetusnya juga, memang perempuan lebih emosional juga. Apabila seseorang idap anatomi sedemikian rupa, ada rasa emosional," bebernya.

Begitu juga, pupil mata perempuan lebih lebar, juga cenderung kecil. Sementara laki-laki matanya lebih besar maka jarang terjadi, dengan rasionya 3:1.

"Perempuan kan karena lebih kecil, jadi kecenderungan untuk terjadinya menutup sudutnya jadi lebih besar gitu ya dibanding laki-laki,” tutur Prof Widya.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, melalui laporan “Situasi Glaukoma di Indonesia 2019”, mengungkapkan secara global jumlah penderita glaukoma di dunia pada 2020 mencapai angka 76 juta, atau dengan kata lain meningkat sekitar25,6 persen dari angka satu dekade silam.

Sementara di Indonesia sendiri, jumlah kasus baru glaukoma pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia pada 2017 lalu, tercatat sudah di angka 80.548. Seperti di salah satu rumah sakit khusus mata ternama di Jakarta saja, data teranyar pada 2019 kemarin menyebutkan sudah ada sekitar 42.662 pasien.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini