Bisakah Terinfeksi Virus Corona COVID-19 Dua Kali?

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 17 Maret 2020 18:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 17 481 2184859 bisakah-terinfeksi-virus-corona-covid-19-dua-kali-VqpWk61KUm.jpg Virus korona (Foto: Consumer Reports)

Virus corona jenis baru, sebagai penyebab dari penyakit COVID-19 sudah dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO, selaku Badan Kesehatan Dunia.

Sejak pertama kali muncul dan merebak di Wuhan, Provinsi Hubei, China, sekitar Desember 2019 lalu virus corona jenis baru ini telah menelan korban sebanyak 6.500 orang di seluruh dunia.

 wabah COVID-19

Walau sudah muncul selama kurang lebih tiga bulan, sampai sekarang belum bisa dipastikan betul seperti apa karakter dari virus corona jenis baru ini.

Contohnya bisa dilihat di kasus pada pasien positif seorang wanita, yang pertama kali didiagnosa positif terinfeksi virus corona COVID-19 pada akhir Januari 2020 silam. Dinyatakan sembuh dan boleh keluar dari rumah sakit pada 1 Februari, namun kemudian disebutkan kembali terinfeksi.

Tes positif kedua terhadap virus corona juga telah dilaporkan di China. Portal berita Shanghai The Paper melaporkan, salah satu fasilitas kesehatan darurat di Wuhan telah mengeluarkan pemberitahuan darurat pada 5 Maret, yang menyatakan lebih banyak pasien sebelumnya telah pulang kala itu kembali masuk rumah sakit karena jatuh sakit untuk kedua kalinya.

Hal ini jadi memunculkan pertanyaan, apakah bisa seseorang terinfeksi virus korona COVID-19 kembali bahkan hingga sampai dua kali?

Philip Tierno Jr, professor microbiologi dan patologi di New York University, mengemukakan bahwa sekali terinfeksi sebetulnya infeksi tersebut bisa tidak aktif. Namun jika menemukan jalurnya, bisa bergerak ke paru-paru.

“Setelah Anda terinfeksi, infeksi ini bisa tidak aktif dan dengan gejala minimal. Kemudian Anda bisa mendapatkan eksaserbasi (kondisi kondisi gejala penyakit paru obstruktif kronis seseorang menjadi memburuk), jika infeksi ini menemukan jalannya ke paru-paru,” ungkap Profesor Philip, seperti dikutip Scotsman, Selasa (17/3/2020).

Sementara Eng Eong Ooi, profesor penyakit menular dari Duke-NUS Medical School Singapura mengatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk mengetahui, seberapa lama orang akan aman dari virus meskipun setelah tubuh orang-orang tersebut melawan virus tersebut.

“Peradangan tampaknya menjadi penyebab Covid-19 yang parah. Ini juga membantu dalam pengembangan imunitas. Saya khawatir kesimpulan apa pun akan prematur, maka dari itu kami akan membutuhkan studi,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini