nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kenali Rapid Test, Tes Corona COVID-19 yang Hanya 15 Menit

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 19 Maret 2020 16:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 19 481 2185967 kenali-rapid-test-tes-corona-covid-19-yang-hanya-15-menit-lJmxYJT0ma.jpg Ilustrasi. (Shutterstock)

ADA 7 instruksi yang diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menangani penanganan virus corona atau COVID-19 di Indonesia. Salah satunya adalah menyebutkan bahwa memilih rapid test atau tes cepat untuk deteksi dini COVID-19.

Dilansir Okezone dari Sehatnegeriku, pemerintah Indonesia mengumumkan sedang mulai mengkaji metode Rapid Test. Rapid test terkait virus corona ini adalah pemeriksaan melalui spesimen darah.

Melalui pemeriksaan spesimen darah inilah, bisa diketahui apakah seseorang positif terinfeksi ataukah negatif dari virus. Lalu bagaimana cara kerja rapid test tersebut?

covid

Ternyata rapid test memiliki cara berbeda dengan tes COVID-19 yang selama ini dilakukan yakni SWAB tes, atau dengan kata lain tes menggunakan apusan tenggorokan atau apusan kerongkongan.

Dijelaskan Yuri, ada keuntungan secara teknis yang dimiliki oleh rapid test. Sebab, rapid test tidak perlu dilakukan di Lab Bio Safety Level 2 dan tes bisa dilakukan secara massal atau bersamaan.

“Salah satu keuntungannya bahwa ini tidak membutuhkan saran pemeriksaan Lab pada BSL (Bio Safety Level) 2. Sebab rapid test akan menggunakan serum darah yang diambil dari darah. Artinya ini bisa dilaksanakan hampir di semua Lab kesehatan yang ada di rumah sakit di Indonesia,” ungkap Yuri.

Namun di sisi lain, rapid test ini memiliki kendala di soal waktu. Sebab pada rapid test yang diperiksa adalah immunoglobulin, maka dibutuhkan reaksi imunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi virus corona, paling tidak satu minggu.

“Karena kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu kemungkinan pembacaan imunoglobulinnya akan memberikan gambaran negatif,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Yuri juga menegaskan tentang pentingnya isolasi diri yang berhubungan dengan rapid test ini. Pasalnya, rapid test harus diiringi dengan pemahaman tentang isolasi diri di masyarakat. Semua ini harus disokong dengan proses monitoring yang dilaksanakan oleh Puskesmas atau Fasyankes terdekat yang sudah disepakati bersama.

Mengingat pada kasus positif COVID-19 dengan pemeriksaan rapid test, kemudian tanpa gejala atau dengan gejala yang minimal indikasinya adalah harus melaksanakan isolasi diri di rumah. Setelahnya, seseorang barulah bisa dilakukan rapid test.

“Kita harus memaknai kasus positif dari pemeriksaan rapid ini diartikan bahwa yang bersangkutan memiliki potensi untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain. Oleh karena itu paling penting adalah melakukan isolasi diri,” pungkas Yuri.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini