Keluh Kesah Pengguna KRL terhadap Penerapan Social Distancing

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 20 Maret 2020 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 20 612 2186398 keluh-kesah-pengguna-krl-terhadap-penerapan-social-distancing-3wpytADs7n.JPG Suasana di KRL setelah pemerintah mengimbau social distancing (Foto : Istimewa)

Pengguna transportasi umum menjadi salah satu kalangan orang yang paling berisiko terpapar virus corona. Alhasil banyak pengguna kereta rel listrik (KRL) yang berupaya menerapkan social distancing untuk mencegah penyebaran virus corona.

Salah satu pengguna KRL bernama Siska, mengatakan social distancing di KRL sama sekali tidak berjalan efektif. Pasalnya Siska harus berjuang untuk berangkat kerja di tengah pandemi virus corona yang melanda Indonesia.

โ€œSosial distancing tidak efektif, karena kondisi sangat ramai. Apalagi saat jam sibuk seperti pulang kerja dan berangkat kerja. Sama sekali tidak bisa menerapkan sosial distancing dengan jarak dua meter seperti yang dianjurkan,โ€ terang Siska kepada Okezone, Jumat (20/3/2020).

Social Distancing

Siska mengatakan seharusnya pihak KRL melakukan pembatasan penumpang di setiap gerbong. Hal ini dilakukan supaya penumpang KRL tidak membeludak yang berpotensi besar menyebarkan virus corona.

โ€œJadi petugas tidak cuma memeriksa suhu tapi mengatur penumpang untuk membatasi kapasitas di dalam kereta. Bisa juga dilakukan penambahan jadwal, jadi penumpangnya dibatasi tapi keretanya diperbanyak,โ€ lanjutnya.

Selain itu Siska juga mengatakan semua perusahaan juga harus menerapkan work from home (WFH). Tujuannya agar tidak ada orang yang masih berangkat kerja menggunakan kereta. Jadi social distancing bisa berjalan dengan baik.

Social Distancing

โ€œUntuk saat ini yang bisa saya lakukan untuk social distancing di kereta adalah menjaga jarak dengan penumpang lainnya. Jangan memegang tiang dan pegangan kereta, menggunakan masker, sehabis dari stasiun, khususnya selesai tap kartu pastikan menggunakan hand sanitizer,โ€ tuntasnya.

Sementara, Lutfi, salah satu pegawai swasta pengguna KRL memiliki pendapat yang hampir serupa dengan Siska. Lutfi berangkat kerja sekira pukul 10.30 WIB naik KRL, kondisi di gerbong tidak terlalu ramai.

"Karena mungkin sudah agak siang. Orang-orang sudah banyak pakai masker, tapi kalau jarak antar penumpang masih seperti biasa saja," ucapnya kepada Okezone.

Karena itu, Lutfi menilai social distancing di KRL sedikit sulit diterapkan, terlebih ketika jam-jam sibuk. "Kalau jam sibuk mungkin repot, berangkat dan pulang kerja penuh sekali mungkin," tuturnya.

Social Distancing

Cara efektif untuk mencegah persebaran virus corona adalah social distancing. Social distancing sendiri yaitu ketika seseorang diminta untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain, adapun jarak yang disarankan yakni hingga 2 meter.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention, ada beberapa cara yang tetap harus diperhatikan ketika melakukan social distancing.

1. Ukur suhu tubuh dengan termometer dua kali sehari. Pastikan selama 14 hari kamu di rumah dalam keadaan sehat dan tidak demam.

2. Tetap di rumah dan hindari kontak dengan orang lain. Gunakan social media, video call, dan interaksi online lainnya.

3. Jangan pergi bekerja atau sekolah selama 14 hari.

4. Hindari menggunakan transportasi umum.

5. Hindari tempat-tempat ramai, seperti pusat perbelanjaan, cafe, bioskop, dan restoran.

6. Jaga jarak sekira 1-2 meter.

Social distancing pun sukses diterapkan di Korea Selatan, sehingga negara ini tak perlu melakukan lock down. Social distancing dinilai bisa mengurangi risiko penyebaran virus corona karena virus ini menular antarmanusia melalui droplet (partikel air liur) saat penderita bersin atau batuk.

Dalam menjalani social distancing, jaga jarak minimal dua meter dengan orang lain, dan dianjurkan tidak berjabat tangan atau berpelukan saat bertemu orang lain.

Sementara untuk di rumah, anggota keluarga harus menjaga jarak sosial, apalagi jika ada yang sakit. Kemenkes meminta setiap keluarga mengupayakan ruang terpisah bagi setiap anggota keluarganya yang memang sakit.

Kemudian, gunakan masker wajah dan ganti setiap hari. Setelah masker dipakai, langsung buang ke tempat sampah tertutup dan cuci tangan dengan benar. Selain itu, masyarakat mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup.

Jika diperlukan, gunakan cairan disinfektan untuk membersihkan rumah, dan jika terpaksa harus keluar rumah, gunakan masker serta hindari kerumunan atau keramaian.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi pun meyakinkan bahwa pemerintah akan mengupayakan agar tidak terjadi kerumunan atau kepadatan saat penumpang menggunakan transportasi publik. Sebab, kerumunan itu dikhawatirkan bisa meningkatkan penyebaran virus corona atau penyakit Covid-19.

Nah, lantaran sulit untuk mengendalikan kerumumanan tersebut, maka pemerintah pun meminta perusahaan melakukan Work From Home. Work From Home harus tetap efektif layaknya berada di kantor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini