Imbas Virus Corona, Pengidap HIV/AIDS Kesulitan Mendapatkan Obat ARV

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 21 Maret 2020 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 21 481 2186806 imbas-virus-corona-pengidap-hiv-aids-kesulitan-mendapatkan-obat-arv-zGcdwvFYOp.jpg Ilustrasi. Foto: Shutterstock

PANDEMI virus Corona (COVID-19) berimbas pada pelayanan pasien pengidap HIV/AIDS atau orang Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Sebab stok obat HIV atau antiretroviral (ARV) mulai sulit ditemukan setelah sumber penyakit tersebut semakin mewabah.

Kelangkaan tersebut terjadi karena arus impor dari luar negeri tersendat akibat virus corona. VoA melaporkan perusahaan penerbangan yang akan mengangkut obat ARV ini membatalkan penerbangannya untuk masa dua minggu ke depan. Di samping itu, tidak ada jaminan bahwa setelah dua minggu, layanan pengiriman obat pagi pengidap HIV/AIDS bisa berjalan.

Salah satu penderita HIV/AIDS, yakni pria berinisial ES mengaku kekurangan obat ARV. Pria asal Bali tersebut pun kini sedang resah. “Keresahan dan ketakutan di arus bawah ini sangat terasa. Apalagi teman-teman yang tidak punya akses untuk bicara kemana-mana. Tahunya mereka terima obat, mereka itu kebingungan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari VoA pada Sabtu (21/3/2020).

ES mengatakan dirinya dan pengidap HIV-AIDS lainnya khawatir dengan efek samping karena mengonsumsi obat ARV yang kadaluwarsa atau jenis obat yang berbeda. ES pun berharap pemerintah segera menemukan solusi.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

“Jangan karena ada pandemiCOVID-19 lalu ODHA-ODHA yang sedang berobat tiba-tiba harus sekarat karena obatnya terputus," ucapnya.

Sementara itu keterbatasan stok obat ARV disampaikan Bali Medika Clinic melalui akun facebook pada Kamis (19/3/2020). Melalui akun media sosialnya, klinik itu menulis untuk sementara hanya bisa memberikan obat untuk 10 hari bagi setiap pasien.

"Kami masih buka seperti biasa, karena keterbatasan stock ARV semua jenis ARV untuk sementara tiap pasien kami berikan 10 hari dan untuk biasa konsultasi gratiskan bagi HIV positif pasien. Mudah-mudahan stock obat segera normal kembali," tulis akun Bali Medika Clinic.

Direktur Eksekutif LSM Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardhana menuturkan pengaruh keterbatasan obat ARV saat ini mengancam 140 ribu pasien HIV/AIDS.

Lebih lanjut, kata dia, obat ARV yang seharusnya diimpor dari India, saat ini belum dapat dikirim karena dampak wabah virus Corona sehingga penerbangan ditunda.

"Situasi menjadi tidak menentu kembali karena mayoritas obat yang dikonsumsi oleh pengidap ODHA di Indonesia adalah obat yang masih diimpor dari India," tutur Adit.

Selain itu, Adit meminta agar pemerintah dapat mengidentifikasi kecukupan ketersediaan obat untu pengidap HIV/AIDS. Sebab obat tersebut belum diproduksi di Indonesia dan harus diimpor dari negara lain. Ketika obat-obata tersebut memang telah sampai di Tanah Air, Adit berharap tidak tertahan di beacukai. “Dalam situasi emergency, maka relaksasi kebijakan mutlak dibutuhkan," jelasnya.

Kemudian, tambah Adit, pemerintah juga dapat mengevaluasi serta memetakan jenis obat ARV yang masih beragam. “Tujuannya untuk memberikan gambaran bagi industri dalam negeri supaya lebih fokus memproduksi obat yang banyak dikonsumsi ODHA di Indonesia,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini