nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Arti Herd Immunity, Langkah Baru untuk Tangani Virus Corona COVID-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 24 Maret 2020 15:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 24 481 2188292 arti-herd-immunity-langkah-baru-untuk-tangani-virus-corona-covid-19-iYNt7XyZD8.jpg Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

PEMERINTAH Belanda sangat serius dalam mencegah penyebaran virus corona (COVID-19). Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, bahkan menyerukan warganya untuk menjaga imunitas dengan herd immunity.

Awal pekan ini, Rutte telah meminta seluruh warga untuk bekerja dari rumah, mengindari restoran, bar, dan angkutan umum, serta menerapkan social distancing. Di samping itu, Rutte juga menyebutkan bahwa kemungkinan besar Pemerintah Belanda akan melakukan herd immunity atau menjaga kekebalan kelompok.

herd

"Dengan mengambil pendekatan ini, kebanyakan orang hanya akan mengalami gejala ringan. Kita bisa membangun kekebalan serta memastikan bahwa sistem perawatan dan kesehatan kita mampu mengatasinya," kata Ruttte dalam pidatonya.

Wacana ini sontak menimbulkan protes keras dari sejumlah kalangan, termasuk para ilmuwan. Menurut mereka, herd immunity bukanlah ide yang baik. Justru dapat meningkatkan jumlah korban jiwa secara drastis.

Pakar penyakit menular Natalie Dean menegaskan, satu-satunya cara teraman untuk menangani virus corona dan penyakit COVID-19 adalah dengan menemukan vaksin yang tepat.

Mengutip laporan Business Insider, Selasa (24/3/2020), herd immunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap patogen, sehingga penularan tidak terjadi secara luas. Contohnya, untuk membatasi penyebaran campak, para ahli memperkirakan bahwa 93% hingga 95% dari populasi harus kebal.

Campak sendiri dianggap lebih menular bila dibandingkan dengan COVID-19. Buktinya, para ahli memperkirakan 40% hingga 70% populasi harus kebal untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Di samping itu, herd immunity juga dapat dicapai melalui penggunaan vaksin, seperti dalam kasus cacar dan campak. Sayangnya, sejumlah ahli mengatakan dibutuhkan waktu selama kurang lebih 18 bulan untuk mengembangkan vaksin corona.

Kekebalan kelompok disinyalir bisa dilakukan secara alami, bila orang-orang yang terbukti positif corona pulih kembali dan menjadi kebal.

Namun hingga saat ini, para tenaga medis dan ilmuwan menolak keras bila kebijakan tersebut diterapkan oleh sebuah negara.

"Mereka membuat asumsi besar bahwa, 'anak muda bisa tertular tapi tidak akan mati'. Belum ada cukup data yang mendukung hal itu. Kami justru belihat banyak orang-orang berusia 30 tahun di ICU, dan kami tidak tahu apakah mereka tidak akan memiliki masalah pernapasan jangka panjang atau masalah paru-paru," kata Natalie Dean.

Beberapa waktu lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), melaporkan jumlah kasus virus corona di Amerika dengan periode antara 12 Februari 2020 hingga 16 Maret 2020. Dari 508 pasien yang menjalani rawat inap, 20% di antaranya adalah orang-orang berusia 20 hingga 44 tahun. Artinya, saat ini kaum milenial juga sangat berisiko terpapar virus corona.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini