nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ilmuwan Sebut Obat Malaria dan Antibiotik Berpotensi sebagai Vaksin Corona COVID-19

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 24 Maret 2020 15:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 24 481 2188325 ilmuwan-sebut-obat-malaria-dan-antibiotik-berpotensi-sebagai-vaksin-corona-covid-19-r6lYlCUo9O.jpg ilustrasi: shutterstock

PARA ahli virus, dokter, hingga para peneliti di dunia tengah berjibaku untuk bisa menemukan vaksin atau obat untuk penanganan virus corona jenis baru, penyebab penyakit COVID-19.

Kabar kali ini datang dari peneliti di Prancis, sebagaimana dikutip Foxnews, Selasa (24/3/2020) para peneliti di Prancis mengemukakan dalam pernyataan bahwa kombinasi dari obat antimalaria dengan antibiotik, berpotensi kuat bisa digunakan sebagai obat vital untuk melawan virus corona COVID-19 yang tengah menjadi pandemi global saat ini.

Dalam pernyataan yang dirilis ke publik pada Minggu, 22 Maret 2020 kemarin, IHU-Méditerranée Infection menggambarkan tentang protokol perawatan untuk pasien COVID-19 dengan pemakaian kombinasi dua obat tersebut.

ist

Disebutkan pasien COVID-19 diberikan kombinasi hydroxychloroquine ( hidroksi klorokuin) dan antibiotik Azitromisin selama kurang lebih di 10 hari pertama.

“Pengobatan dengan kombinasi hidroksi klorokuin (200 mg x 3 per hari selama 10 hari) ditambah Azitromisin (500 mg pada hari pertama, kemudian 250 mg per hari selama 5 hari lagi), sebagai bagian dari tindakan pencegahan. Dalam kasus pneumonia berat, antibiotik spektrum luas juga digunakan,” bunyi pernyataan IHU-Méditerranée

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Antimicrobial Agents. Para peneliti tersebut adalah peneliti dari IHU-Méditerranée Infection, Marseille. Para peneliti, meresepkan hydroxychloroquine yakni obat antimalaria bersama obat antibiotik azithromycin sebagai penanganan pada pasien, sekitar awal bulan Maret 2020 ini. Namun, beberapa ahli diketahui memperingatkan agar berhati-hati dalam kombinasi kedua obat tersebut.

Federal Drug Administration sendiri tengah mempelajari efek dari obat hydroxychloroquine, sebagai alternatif pengobatan untuk pasien COVID-19, tapi sejauh ini memang belum direkomendasikan.

Dalam abstrak studi penelitiannya, para peneliti mencatat bahwa para pasien menunjukkan adanya pengurangan yang signifikan dalam hal viral load. Pengurangan yang signifikan tersebut, disebutkan terlihat saat enam hari setelah pemberian kombinasi dua obat tersebut dimulai. Begitu juga dengan hasil durasi carrying, yang terlihat lebih rendah jika dibandingkan dengan pasien yang tidak diobati.

Dalam penelitian ini, pasien yang tidak diobati dimasukkan sebagai kontrol negatif. Enam pasien dalam penelitian ini tidak menunjukkan gejala, sedangkan 22 pasien lain memiliki gejala infeksi saluran pernapasan atas dan delapan orang pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan bawah. Para peneliti merawat 20 kasus dalam penelitian ini.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Dr. Mehmet Oz mengatakan bahwa dirinya merasa optimis dengan data dari peneliti Prancis tersebut.

“Obat-obatan ini sangat efektif dalam mengurangi viral load pada orang yang memiliki virus corona COVID-19. Kita benar-benar dapat membuat virus ini berperilaku lebih seperti virus flu, jika itu benar,” ungkap Dr. Mehmet.

Namun di sisi lain, para ahli lainnya juga memperingatkan agar berhati-hati dalam kombinasi obat-obatan. Dokter penyakit menular Dr. Edsel Salvana memperingatkan pasien untuk tidak minum kombinasi hydroxychloroquine dan azithromycin kecuali diresepkan oleh dokter, alias tidak dikonsumsi sembarangan.

"Kedua obat mempengaruhi interval QT jantung kita dan dapat menyebabkan aritmia dan kematian mendadak, terutama jika Anda dalam kondisi juga mengonsumsi obat-obatan lain atau memiliki kondisi jantung," tulis Dr. Edsel.

Dokter Edsel dalam cuitannya juga mengingatkan, meskipun ada datanya tapi sejatinya masih terlalu dini untuk menyakini dengan valid bahwa kombinasi obat antimalaria dan antibiotik ini adalah obat paten untuk penanganan virus corona COVID-19.

“Ada beberapa kasus di mana dokter dapat menggunakan salah satu atau keduanya dalam kasus infeksi COVID-19. Tetapi penggunaannya melalui proses yang dipantau dengan cermat. Ada data yang mungkin berfungsi, tapi ini sangat dini. Jangan minum obat apa saja, kecuali MD (doctor of medicine) yang memberi resep dan memantau Anda dengan teliti,” tegasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini