nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjuangan Sarah Jadi Wartawan, Tetap 'Berkeliaran' di Tengah Pandemi Corona

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 30 Maret 2020 19:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 30 612 2191424 perjuangan-sarah-jadi-wartawan-tetap-berkeliaran-di-tengah-pandemi-corona-MZ52jhEGTf.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TIDAK hanya para tenaga kesehatan, para pegawai transportasi publik, pedagang, kurir, ataupun ojek online yang tidak bisa melaksanakan konsep kerja WFH atau bekerja dari rumah. Begitu juga dengan para wartawan, yang harus memberikan informasi mengenai perkembangan pandemi ini.

Di tengah pandemi COVID-19 di Indonesia, mereka yang berprofesi sebagai jurnalis mau tidak mau tetap harus meliput berbagai peristiwa, meskipun ada yang bisa dilakukan dengan streaming atau WFH, tapi kondisi di lapangan membuat mereka mau tidak mau harus berjuang datang ke tempat-tempat yang menjadi epicentrum.

Salah satunya, Sarah, jurnalis di salah satu media online ternama di Indonesia. Bekerja menjadi jurnalis, membuat Sarah harus pergi meliput keliling Jakarta di tengah situasi Jakarta sebagai daerah zona merah, karena jadi lokasi paling banyak terdapat kasus positif COVID-19.

Salah satu tempat yang paling menakutkan adalah ke rumah sakit nomor satu rujukan nasional untuk COVID-19, RSPI Sulianti Saroso. Perempuan berkacamata ini bertugas meliput pasien pertama positif COVID-19, 01, 02,03 diumumkan oleh Presiden Joko Widodo.

virus corona

“Meliput di RSPI sejak ada kasus pertama, satu minggu full liputan di sana. Durasi pas di rumah sakit bisa dibilang lama, dari pagi sekitar jam 11.00 untuk konferensi pers sampai menjelang malam karena sekalian ketik artikel di sana,” ujar Sarah saat dihubungi Okezone, baru-baru ini melalui sambungan telefon.

Kurang lebih satu pekan meliput di RSPI, yang merupakan rumah sakit khusus penyakit infeksi dan merupakan rumah sakit pertama yang merawat tiga orang pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia.

Sarah tak menampik, dirinya cukup panik saat itu meskipun kondisi rumah sakit ia gambarkan sebetulnya tidak terlalu padat. Apalagi kala itu, pemerintah juga belum mengeluarkan imbauan apapun sebagai upaya penanganan. Kepanikan Sarah ini semakin bertambah dengan kondisi tubuhnya yang sedang kurang fit saat itu.

“Apalagi belum ada imbauan berarti dari pemerintah pada saat itu. Kepikiran banget dan takut juga karena pas hari pertama lagi tidak enak badan. Waktu itu kantor belum kasih masker dan lain-lain," kata dia.

"Salah juga sih, aku enggak bilang ke kantor kalau lagi enggak enak badan. Untungnya rajin minum vitamin dan jaga kebersihan sih,” tambahnya.

Menyadari dirinya harus tetap beraktivitas di luar rumah, terlebih lagi harus meliput di rumah sakit. Sarah mulai memproteksi dirinya dengan mengenakan masker, membawa hand-sanitizer dan sebisa mungkin rajin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun.

Meski memiliki peluang cukup tinggi untuk tertular, namun Sarah mengaku enjoy dalam meliput. Ia merasa bertanggung-jawab untuk bisa memberikan berita yang akurat dan terpercaya kepada masyarakat, terlebih lagi di saat situasi sekarang yang begitu banyak hoax beredar soal virus corona COVID-19.

“Dukanya sih peluang kita untuk tertular tuh mungkin cukup tinggi ya, lumayan bahaya kalau enggak hati-hati. Sukanya sih, kita wartawan kan menulis berita yang ditunggu-tunggu informasinya oleh masyarakat,” tutup Sarah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini