nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Cuma Sake, Jepang Punya Minuman Fermentasi Beras Tradisional

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 31 Maret 2020 14:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 31 298 2191765 tak-cuma-sake-jepang-punya-minuman-fermentasi-beras-tradisional-Vx27uTJGyT.jpg Ilustrasi. (Foto: Justonecookbook)

MUNGKIN Anda hanya sering mengenal sake minuman fermentasi yang sering dinikmati banyak orang. Bila Anda ingin merasakan sensasi minuman lain, ada amazake. 

Amazake sering disuguhkan sebagai minuman tradisional penduduk yang tinggal di sekitar Kuil Fushimi Inari, yang berada di lereng gunung Kyoto. Pendatang yang merasa haus pasti diberikan minuman kaya manfaat itu.

Biasanya amazake juga disajikan panas atau dingin, yang sama-sama nikmat. Cita rasanya manis dan gurih, seakan menambah energi bagi siapa saja yang lelah jalan-jalan.

amazake

Bahkan belakangan amazake bisa dibeli seharga 400 yen atau sekira Rp57 ribu untuk dibawa pulang.

Di balik nikmatnya amazake ternyata minuman ini punya sejarah panjang sejarah kuliner Jepang.

Amazake pertama kali dikembangkan pada periode Kofun, sekira 250 hingga 538 Masehi. Pada awalnya merupakan teknik fermentasi dan pengawetan makanan, dibuat dengan merebus nasi, air dan koji, jamur berfilamen yang juga digunakan dalam fermentasi miso, natto dan kecap, selama delapan hingga 10 jam.

Minuman yang dihasilkan, yang penuh dengan nutrisi dan bakteri baik, menjadi sangat populer sehingga bahkan disebutkan dalam Nihon Shoki, sebuah teks yang disusun pada 720 Masehi yang berisi sejarah resmi tertua Jepang.

Sejak itu, minuman ini telah mengalami kenaikan dan penurunan popularitas.

Penjualan melonjak 134,8% antara 2016 dan 2017, menurut pameran makanan dan minuman Foodex Jepang, pada saat itu fermentasi di rumah menjadi hobi yang trendi.

Minuman ini kemudian kembali populer pada tahun 2019, sebagian kecilnya berkat boyband Kanjani Eight, yang disewa sebagai juru bicara untuk Hiyashi Amazake, merek populer di seluruh Jepang. Bahkan amazake juga secara rutin hadir di berbagai kafe dan toko serba ada di seluruh negeri, dengan penduduk setempat menghirupnya sebagai suguhan pagi atau menjemput sore.

Dilansir Okezone dari BBC Indonesia, Hiroshi Sugihara, seorang penjual ikan dan penggemar fermentasi asal prefektur Aichi, Jepang, kemudian pindah ke Perth, Australia, menyaksikan kebangkitan budaya fermentasi secara langsung.

Sejak lama Hiroshi menggemari fermentasi miso dan doburoku (sejenis sake), ia memperkenalkan amazake, minuman dari masa kecilnya, ke grup tersebut.

"Sangat menarik dan ada reaksi beragam dari [anggota] Kaukasia tetapi orang Asia dapat menghubungkannya dengan beberapa permen tradisional mereka," katanya.

Sugihara suka mengingat pengalamannya minum amazake panas di kuil pada Malam Tahun Baru. Karena diyakini memiliki kualitas menghangatkan (terutama karena jahe, yang sering digunakan untuk menambah rasa), minuman ini cenderung banyak dikonsumsi selama musim dingin, periode yang mencakup beberapa hari libur besar, termasuk "Festival Boneka" Hinamatsuri.

Hal ini mengakibatkan banyak orang Jepang menganggap minuman itu sebagai sesuatu yang menghubungkan budaya nasional masa lalu dan masa kini.

Seperti dijelaskan Shihoko Ura, penulis blog makanan Chopstick Chronicles, ingatannya akan amazake dipenuhi dengan banyak sentimentalitas, terutama sekarang setelah ia bermigrasi ke Australia.

"Saya dulunya anggota Palang Merah di Kota Ise, Prefektur Mie, lokasi Kuil Ise yang terkenal itu," kenangnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini